Rabu, November 11, 2009

PENINGKATAN PERAN INDUSTRI PERTAHANAN DALAM NEGERI - [CATATAN NATIONAL SUMMIT 29 – 30 OKTOBER 2009]


Meskipun topik upaya peningkatan kemampuan pertahanan melalui peningkatan peran industri pertahanan dalam negeri tidak termasuk dalam agenda Summit Nasional, namun topik tersebut turut dibahas dalam Bidang Hukum dan Reformasi Birokrasi, khususnya dalam Komisi V Pemberantasan Terorisme. Topik ini dirasakan perlu untuk diangkat dalam rembug nasional karena merupakan fakta bahwa kondisi pertahanan negara saat ini menurun daya penggentarnya. Oleh karena itu diperlukan upaya-upaya strategis meningkatkan kemampuan pertahanan negara yang salah satunya dilakukan melalui peningkatan peran industri pertahanan dalam negeri.

Sebagai akibat keterbatasan keuangan negara dan skala prioritas pembangunan, telah berdampak pada masih rendahnya alokasi anggaran pertahanan. Pelaksanaan berbagai program prioritas nasional seperti subsidi BBM, penanggulangan kemiskinan, peningkatan kesehatan masyarakat, dan pemenuhan anggaran pendidikan sebesar 20 % dari APBN sesuai amanat UUD 45 menyebabkan alokasi anggaran pertahanan tidak beranjak dari 1 % GDP. Jika pada awal RPJMN 2004 – 2009 alokasi anggaran pertahanan sebesar 1,1% PDB, maka dalam pelaksanaannya justru menunjukkan penurunan. Dalam tiga tahun terakhir belanja pertahanan berturut sebesar 0,92 % PDB tahun 2007; 0,70 % PDB tahun 2008; dan 0,63 % PDB tahun 2009.

Kondisi tersebut secara signifikan berpengaruh pada kemampuan pertahanan terutama dihadapkan pada berbagai ancaman dan gangguan kedaulatan NKRI. Di samping akan memperlemah kemampuan alutsista yang ada, rendahnya anggaran pertahanan juga berpengaruh pada kemampuan mengganti alutsista yang habis usia pakai dan kemampuan mengikuti teknologi pertahanan. Sebagian besar alutsista TNI berusia lebih dari 20 tahun dan sebagian darinya memiliki sisa usia pakai antara 7 – 15 tahun.

Secara umum tingkat kesiapan kekuatan matra darat sampai akhir tahun 2008 rata-rata mencapai 68.85 persen yang meliputi: 1.261 unit berbagai jenis kendaraan tempur (ranpur) dengan tingkat kesiapan 63,36 persen, 537.198 pucuk senjata Infanteri berbagai jenis dengan tingka kesiapan 72,86 persen, 983 pucuk senjata artileri berbagai jenis dengan tingkat kesiapan 74,97 persen, 59.842 unit kendaraan bermotor (ranmor) berbagai jenis dengan tingkat kesiapan 87,17 persen, 61 unit pesawat terbang berbagai jenis dengan tingkat kesiapan 45,90 persen.

Tingkat kesiapan kekuatan matra laut rata-rata mencapai 46,27 persen, yang meliputi: 143 unit kapal perang (KRI) dengan tingkat kesiapan 61,53 persen, 312 unit Kapal Angkatan Laut (KAL) dengan tingkat kesiapan 24,35 persen, 410 unit kendaraan tempur marinir berbagai jenis dengan tingkat kesiapan 38.29 persen, dan 64 unit pesawat terbang dengan tingkat kesiapan 60,93 persen. Adapun kekuatan alutsista TNI AU yang tertumpu pada pesawat tempur, pesawat angkut, helikopter dan pesawat jenis lainnya, serta peralatan radar dan rudal kesiapan rata-rata saat ini mencapai 78,93 persen, yang meliputi: 233 unit pesawat terbang dari berbagai jenis dengan tingkat kesiapan 55,79 persen, 16 unit peralatan radar dengan tingkat kesiapan 81 persen, dan 26 set rudal jarak pendek dengan tingkat kesiapan 100 persen.

Industri pertahanan merupakan salah satu pilar penting keamanan nasional terutama pertahanan negara. Kemandirian industri pertahanan nasional akan mengurangi ketergantungan alutsista TNI (dan juga alat utama POLRI), memperkecil resiko dan kerawanan serta kelangkaan alustsita yang diakibatkan oleh embargo, dan sekaligus dapat meningkatkan efek penggentar pertahanan negara.

Beberapa hasil penelitian dan pengembangan yang telah dapat dimanfaatkan untuk kepentingan TNI yang sesuai spesifikasi matra diantaranya adalah prototype payung udara orang (PUO), alat komunikasi (alkom) spread spectrum, hovercraft, landing craft rubber (LCR), combat system PC-40, SKS Tracking Optic, rudal (Surface to Surface, Ground to Ground dan Ground to Air), roket 70 mm dan 80 mm, Unman Aerial Vehicle (UAV), angkut personil sedang (APS), panser APS, senjata SS-2, dan gyro digital. Terkait dengan kebutuhan kendaraan tempur, sebanyak 150 unit Panser APS buatan PT. Pindad telah mewarnai alutsista TNI.

Secara umum peran industri pertahanan nasional dalam keamanan nasional relatif belum maksimal, yaitu dicerminkan dari potensi Industri pertahanan yang belum sepenuhnya dapat direalisasikan dan termanfaatkan dalam sistem keamanan nasional. Meskipun sejak tahun 2006 pemerintah berkomitmen meningkatkan peran industri pertahanan nasional guna memenuhi kebutuhan Alutsista TNI, namun komitmen tersebut belum dapat dilaksanakan secara maksimal terkait dengan mekanisme pembiayaannya. Upaya pengalihan sebagian pinjaman luar negeri (Kredit Ekspor) ke pinjaman dalam negeri terbentur pada peraturan perundangan yang belum ditetapkan.

Di sisi lain, industri pertahanan nasional yang saat ini identik dengan inefisiensi, kurang kompetitif, tidak memiliki keunggulan komperatif, dan tidak mampu memenuhi persyaratan dalam kontrak, juga harus mentransformasi perilaku bisnisnya agar mampu mengemban kepercayaan yang telah diberikan, yang antara lain dicerminkan dari kesesuaian harga dan kualitas produk serta ketepatan waktu penyerahan. Berbagai permasalahan dalam pengembangan industri pertahanan ini sangat terkait dengan ketersediaan dan belum solidnya payung hukum, kelembagaan, dukungan riset dan pengembangan (R&D), serta dukungan finansial.

Dalam diskusi National Summit-pun permasalahan yang berkembang tidak jauh berbeda dengan permasalahan di atas. Pembinaan kemampuan pertahanan yang terdiri dari segala sumber daya nasional (sumber daya manusia, sumber daya alam dan buatan, nilai-nilai, teknologi, dan dana yang dapat didayagunakan untuk meningkatkan kemampuan pertahanan negara) sampai saat ini belum dilengkapi dengan Peraturan Pemerintah, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 3 tahun 2002 tentang Pertahanan Negara. Peraturan yang ada baru setingkat Peraturan Menteri Pertahanan. Khusus untuk pengembangan industri pertahanan, terbentuknya Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) diharapkan dapat merumuskan profil serta postur TNI dan pertahanan nasional belum dapat bekerja secara optimal.

Dalam APBN tahun 2010, pemerintah berencana mengalokasikan anggaran sebesar 1 (satu) trilyun rupiah untuk pengembangan dan pengadaan alutsista TNI dan alut POLRI dari produk industri pertahanan dalam negeri. Sedianya kegiatan tersebut akan dibiayai dari pinjaman dalam negeri (PDN). Untuk tahun-tahun mendatang diharapkan akan ada peningkatan pagu anggaran, tetapi diharapkan dengan suku bunga yang lebih rendah dibandingkan dengan suku bunga pinjaman luar negeri.

Bukan hal yang mudah untuk menggenjot industri pertahanan nasional, kalau usernya (konsumen) hanya institusi militer dalam negeri. Modal kerja yang sangat besar untuk membangun infrastruktur industrinya dan dihadapkan pada terbatasnya konsumen, menyebabkan skala produksinya menjadi tidak ekonomis bahkan cenderung merugi. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila produk industri pertahanan dalam negeri menjadi lebih mahal dan kurang kompetitif dibandingkan dengan produk militer luar negeri. Berkenaan dengan hal ini, insentif pemerintah sangat diperlukan. Tidak hanya komitmen penyerapan yang signifikan, tetapi perlu dukungan fasilitas dan regulasi produk industri pertahanan dalam negeri yang berorientasi untuk ekspor. Di samping itu, untuk meningkatkan kualitas produk industri pertahanan dalam negeri diperlukan peningkatan riset dan pengembangan dengan mensinergikan Balitbang Dephan/TNI, Perguruan Tinggi, dan BUMN Strategis.

Gunarta - Perencana Bappenas

Referensi utama : Konsep RPJMN 2010 – 2014 Bidang Hankam, Nasional Summit 2009, dan Hasil Sosialisasi RPJM. Gambar diunduh dari nusantaranews.wordpress.com/.../

Selasa, November 10, 2009

PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN TERORISME - [CATATAN NATIONAL SUMMIT 29 – 30 OKTOBER 2009]


Sepekan setelah pelantikan Presiden dan pelantikan anggota Kabinet Indonesia Bersatu II, Presiden melakukan gebrakan yang belum pernah dilakukan oleh pemerintahan-pemerintahan sebelumnya, yaitu Rembug Nasional (National Summit) yang digelar bersama dengan kamar dagang dan industri (KADIN) Indonesia. Gebrakan ini untuk mendiskusikan dan mematangkan program jangka pendek dan jangka menengah lima tahun ke depan, sebagaimana yang tertuang dalam Visi dan Misi Presiden terpilih periode 2009 - 2014. Hasil Rembug Nasional tersebut selanjutnya akan di kolaborasikan dalam Program 100 Hari Presiden dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2009 – 2014.

National Summit yang dilaksanakan di Pacific Place – Hotel Ritz Carlton membahas 3 bidang utama yaitu (1) Bidang Ekonomi dengan topik infrastruktur, pangan, energi, usaha kecil menengah (UKM), industri dan jasa, serta transortasi; (2) Bidang Kesejahteraan Rakyat dengan topik pengentasan kemiskinan, penciptaan kesempatan kerja, peningkatan kesehatan masyarakat, peningkatan relevansi dan daya saing pendidikan, mitigasi perubahan iklim dan adaptasi terhadap dampaknya, serta memperkuat peran agama dalam pembangunan; dan (3) Bidang Hukum dan Reformasi dengan topik efektivitas pembangunan daerah, pelayanan publik, pemberantasan korupsi, serta pemberantasan terorisme. Pemberantasan terorisme yang didiskusikan pada Komisi V juga membahas masalah peningkatan kemampuan pertahanan melalui peningkatan peran industri pertahanan dalam negeri.

Dalam tatanan ekonomi yang telah terintegrasi secara global, serangan teroris terutama yang berskala besar akan menimbulkan dampak merugikan terhadap kesejahteraan masyarakat di berbagai belahan dunia termasuk negara-negara berkembang. Serangan 11 September 2001 diperkirakan telah menambah jumlah orang miskin sampai dengan 10 juta dan kerugian total terhadap ekonomi dunia mencapai USD 80 milyar. Kelompok teroris seringkali menjadikan negara-negara yang lemah sebagai tempat perlindungannya dan tumbuh subur seiring kemiskinan, ketidakadilan, dan ketertindasan. Bangsa Indonesia mengalami kerugian baik materi dan non-materi serta kehilangan banyak jiwa sebagai dampak aksi terror di berbagai tempat di wilayah Indonesia. Indonesia juga sering terkena imbas dan warga negara Indonesia terkadang dikaitkan dengan berbagai kejadian terorisme internasional.

Untuk menangani terorisme, Indonesia saat ini telah menjalin kerjasama bilateral maupun multilateral. Secara bilateral dengan Polandia melalui Agreement on Cooperation in Combating Transnational Crime and Other Types of Crime dan dengan Vietnam melalui MoU on Cooperation and Combating Crime. Sedangkan secara multilateral melalui Forum dialog ASEAN melalui Expert Working Group on ASEAN Convention on Counter Terrorism (JEWG on ACCT), ASEAN – Republic of Korea Joint Declaration for Cooperation to Combat International Terrorism, ASEAN – Pakistan Joint Declaration for Cooperation to Combat International Terrorism, dan ASEAN – New Zealand Joint Declaration for Cooperation to Combat International Terrorism, dan Forum APEC melalui Counter Terrorism Task Force (CTTF).

Aksi terorisme yang selama ini berhasil diredam ternyata muncul kembali di wilayah NKRI yang ditandai dengan pemboman 2 (dua) hotel bertaraf internasional di Jakarta. Dengan modus operandi yang telah sedemikian berkembang, jaringan terorisme di wilayah NKRI ini merupakan ancaman dan gangguan yang sangat mengkhawatirkan bagi keamanan nasional. Perkembangan aksi terorisme juga mengindikasikan bahwa sangat mungkin di masa depan aksi terorisme berpotensi menggunakan persenjataan biologi maupun kimia dan bahkan persenjataan nuklir, mengingat ketersediaan dan perdagangan teknologi persenjataan biologi dan kimia, serta bahan nuklir cenderung semakin sulit dikontrol sepenuhnya. Saat ini hampir 60 negara membangun reaktor-reaktor tenaga nuklir dan sekurangnya 40 negara memiliki infrastruktur industri berbasis nuklir.

Selain itu, aksi terorisme yang melibatkan warga negara Indonesia dengan didukung kekuatan asing juga menunjukkan bahwa terorisme di Indonesia masih merupakan bahaya laten. Di masa mendatang, selain pengungkapan, penegakan hukum dan penuntasan jaringan terorisme, tantangan berat lainnya adalah meyakinkan dan memaksimalkan peran seluruh komponen bangsa dan negara serta masyarakat bahwa terorisme adalah musuh yang harus dihadapi secara bersama-sama dan sekuat tenaga sehingga aksi terorisme di wilayah NKRI dapat tercegah.

Dari diskusi yang berkembang terdapat beberapa usulan dan masukan kepada pemerintah guna menanggulangi dan memberantas terorisme. Payung hukum pencegahan dan pemberantasan terorisme perlu segera ditetapkan untuk menghindari berbagai polemik yang terjadi di masyarakat seperti tuduhan penculikan, pelanggaran HAM, atau tuduhan-tuduhan lainnya. Untuk merancang payung hukum tersebut, Departemen Kehakiman, Hukum dan HAM dapat mengadopsi Rancangan Undang-Undang Keamanan Nasional.

Merupakan kenyataan bahwa permasalahan terorisme sangat kompleks dan tidak mungkin hanya ditangani oleh satu instansi (POLRI), harus melibatkan berbagai instansi seperti Departemen Agama, Badan Intelijen, Departemen Pertanian, Dephan/TNI dan sebagainya. Dengan demikian Badan Penanggulangan Terorisme menjadi hal yang penting untuk segera dibentuk. Namun harus ditegaskan apakah sebagai badan koordinasi, regulasi atau operasional.

Terkait dengan koordinasi pencegahan dan penanggulangan terorisme, diperlukan perumusan bersama di mana titik-titik TNI dapat dilibatkan dalam penanggulangan dan pencegahan terorisme. TNI bisa terlibat dalam pencegahan dan penanggulangan terorisme berdasarkan permintaan dan keputusan negara (bisa legislative (politik) atau eksekutif (pemerintah = Presiden). Keterlibatan juga bisa didasarkan pada Beyond Police Capacity, yaitu kemampuan Polri menilai degradasi situasi yang memungkinkan keterlibatan TNI atau lembaga lain dalam pencegahan dan penanggulangan terorisme. Dengan demikian bisa juga dilakukan dengan instruksi (Presiden atau Kapolri). Untuk merumuskan hal-hal tersebut, pembentukan Dewan Keamanan Nasional menjadi urgen.

Pencegahan dan pemberantasan terorisme seringkali berkejaran dengan penguasaan teknologi canggih oleh para teroris. Aparat keamanan seringkali kesulitan mengungkap dan membongkar jaringan teroris karena keterbatasan teknologi yang dimilikinya. Oleh karena itu peningkatan upaya-upaya deteksi dini perlu diprioritaskan dalam pembangunan 5 tahun ke depan. Hal yang tidak kalah penting untuk menjadi perhatian pemerintah adalah adanya laboraturium-laboratorium biologi yang banyak terdapat di sektor pertanian. Laboratorium tersebut dengan mudah dapat merekayasa organisme yang potensial dikembangkan menjadi senjata biologi. Mudahnya akses pemanfaatan laboratorium biologi, sangat mungkin ada orang-orang yang tidak bertanggung jawab mengembangkan bioterorisme. Oleh karena itu, dalam jangka pendek perlu dilakukan inventarisasi dan identifikasi laboratorium-laboratorium agar tidak disalahgunakan atau dikembangkan untuk bioterorisme.

Di perguruan tinggi terdapat paradikma yang justru berkebalikan antara perguruan tinggi keagamaan dengan perguruan tinggi umum. Perguruan tinggi keagamaan (IAIN) cenderung menghasilkan orang-orang yang liberal, sementara perguruan tinggi umum terutama dari fakultas atau jurusan saintifik justru menghasilkan orang-orang radikal. Contohnya, yang terlibat dalam terorisme ciputat beberapa waktu yang lalu adalah mahasiswa saintifik (matematika). Di samping itu, saat ini terjadi pelemahan kegiatan-kegiatan otoritas kampus, sehingga para mahasiswa cendeung secara mandiri membuat atau melakukan berbagai kegiatan-kegiatan di luar kendali otoritas kampus yang sangat mungkin menjurus ke aktivitas terorisme.

Peran lembaga pembina keagamaan seperti Ditjen Binmas Islam Deparemen Agama dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) sangat diperlukan dalam rangka mencegah masyarakat agar tidak terlibat dalam aksi terorisme. Pelaku terorisme yang berhasil ditangkap secara kebetulan kebanyakan berasal dari lembaga pendidikan keagamaan seperti pesantren. Bahkan saking banyaknya tersangka teroris dari kalangan pesantren muncul stigmatisasi bahwa pesantren sebagai lembaga yang memproduksi teroris atau sarang terorisme. Celakanya hal ini seringkali dijadikan black campaign bagi kelompok tertentu untuk menyudutkan umat dan agama Islam. Ditambah lagi baik pemerintah maupun media cetak seringkali secara sengaja maupun tidak sengaja meneguhkan stigma tersebut. Oleh karenanya, harus ada upaya menghentikan black campaign agar tidak melukai perasaaan umat Islam.

Pada saat ini MUI telah menerbitkan buku “Pelurusan Makna Jihad” dan telah disebarkan ke berbagai elemen masyarakat termasuk ke pondok-pondok pesantren. MUI juga telah mengeluarkan fatwa bahwa “Terorisme itu haram”, “Bom bunuh diri itu haram”, dan secara tegas tidak mengakui aksi bunuh diri sebagai tindakan Jihad. Sayangnya, fatwa-fatwa MUI tersebut baru disosialisasikan secara terbatas sehingga khalayak umum belum banyak yang mengetahui. Akibatnya stigma Islam sebagai agama kekerasan belum dapat dipupus sama sekali, terutama dikalangan non muslim.

Terorisme muncul dari kalangan radikalis yang seringkali salah memaknai jihad, murtad, kafir, musrik, munafik, ahlul bait, dan lain sebagainya. Inklusifme terhadap kelompoknya (yang radikal) menyebabkan orang di luar kelompoknya dianggap murtad, kafir, atau musrik yang wajib diperangi, kalau perlu dibunuh. Pandangan-pandangan semacam ini harus segera diluruskan. Upayanya adalah dengan melakukan dialog dengan lembaga-lembaga keagamaan yang rawan terlibat terorisme baik di sekolah umum (unit kerohanian Islam) maupun di pesantren-pesantren. Tujuannya adalah untuk menggali sekaligus mengetahui lata belakang mengapa mereka dapat terlibat aksi terorisme. Upaya ini juga harus diimbangi dengan meng-counter black campaign yang mendiskreditkan Islam.

Secara umum masukan dan saran, serta kesimpulan telah searah dengan konsep RPJM N 2009 – 2014 yang disusun oleh Bappenas. Namun demikian, tidak semua saran dan masukan dapat terakomodasikan secara khusus dalam Bab 6 Bidang Pertahanan dan keamanan yang menampung program kerja Dephan/TNI, Polri, BIN, BNN, Wantanas, Lemsaneg, Lemhannas sebagai mitra kerja Direktorat Pertahanan dan Keamanan. Beberapa usulan sifatnya lintas bidang dan lintas instansi seperti Deparemen Hukum dan HAM, Departemen Pertanian, Departemen Dalam Negeri, Departemen Agama, dan sebagainya.

Beberapa issue nasional Summit bidang pencegahan dan pemberantasan terorisme yang dapat diakomodasikan dalam program jangka pendek (program 100 hari) dan jangka panjang (RPJMN 2009 – 2014) adalah : (1) Pembentukan Payung Hukum Pencegahan dan Pemberantasan Terorisme; (2) Pembinaan lembaga pesantren, unit-unit kerohanian Islam untuk menghindarkan keterlibatan dalam aksi terorisme, termasuk menghilangkan stigmatisasi bahwa pesantren produsen teroris dan Islam agama kekerasan; (3) Upaya dialogis untuk meluruskan makna jihad dan berbagai konsep radikal kepada masyarakat umum, lembaga-lembaga pesantren, dan unit-unit kerohanian Islam di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi; (4) Upaya deteksi dini mencegah dan pemberantasan terorisme; (5) Berdasarkan kenyataan bahwa aksi terorisme tidak dapat ditangani oleh satu instansi, diperlukan pembentukan Badan Koordinasi Penanggulangan Terorisme; (6) Inventarisasi dan identifikasi Laboratorium-laboratorium biologi untuk mencegah pengembangan bioterorisme; dan (7) Perumusan keterlibatan TNI dalam pencegahan dan pemberantasan Terorisme.

Gunarta – Perencana Muda

Referensi utama : Konsep RPJMN 2010 – 2014 Bidang Hankam, Nasional Summit 2009, dan Hasil Sosialisasi RPJM. Gambar diunduh dari : http://ennodr.files.wordpress.com/2009/08/densus88palembangt-1.jpg

Rabu, Oktober 21, 2009

Pakai Kebaya Naik Angkot

Cobalah Anda pakai kebaya, beskap, atau pakaian tradisional derah lain (koteka barangkali), terus naiklah mikrolet, metromini, atau bis kota. Tanggung Anda bakalan saltum mati gaya dan jadi pusat perhatian penumpang lainnya. Di Jakarta, dan di manapun di negeri tercinta Indonesia, kostum standar naik angkutan umum tuh nggak jauh-jauh dari jins belel-kaos oblong butut, atau baju seragam kantor, paling mentok ya blazer. Dus, keliatan nggak pantes banget pakai jas apalagi pakaian tradisional.

Setuju nggak, kalau kubilang bahwa penyediaan angkutan umum di Indonesia tuh disadari atau enggak berangkat dari prinsip menyediakan sarana transportasi bagi mereka yang miskin atau belum mampu beli kendaraan sendiri. Akibatnya, layanan yang diberikan juga ala kadarnya, sebatas "asal Lo keangkut juga udah syukur". Akibatnya (lagi), buat banyak orang naik angkot tuh jadinya juga didodorong oleh rasa terpaksa karena enggak ada pilihan lain, sambil dalam hati berangan-angan penuh dendam: “awas, kalau Gue tar punya mobil sendiri, najis Gue naik nih angkot”.

Gimana nggak terpaksa kalau mutu layanan angkutan umum dari waktu ke waktu bukannya tambah baik malah makin amburadul. Saat naik angkot adalah momentum di mana kesabaran dan ketabahan kita diuji. Sudahlah waktu kedatangan dan tiba di tempat tujuan nggak bisa ditebak, ngetem seenak perut pula seolah waktu penumpang tuh nggak ada harganya. Abis itu, ugal-ugalan kalau dari jauh keliatan angkot lain nyusul. Waktu naik, kaki sebelah masih ngegantung si angkot udah main tancap gas; dan waktu turun, si sopir dan kenek suka nggak sabaran teriak nyuruh cepet sambil ngetok-ngetokin koin ke kaca atau besi pegangan dengan ritme mengintimidasi (kalau Anda user angkot, Anda pasti hafal dengan kelakuan kenek yang beginian). Belum lagi copet yang makin canggih bekerja dalam tim 4-6 orang, pengamen nggak jelas, orang minta sumbangan main ancam ngaku baru keluar dari penjara karena mbunuh orang dan sedang butuh duit buat pulang kampung, penumpang kampret egois atau malah sopir dan kenek jiancuk yang dengan cueknya menebar racun merokok di tengah penuh sesak penumpang. Dan, masih banyak lagi yang lainnya yang bikin naik angkot di sini tuh aktivitas yang tingkat menjengkelkannya cuma satu setrip lebih baik daripada nonton sinetron Cinta Fitri.

Punya mobil sendiri agar terbebas dari pedihnya siksa angkot adalah dambaan setiap insan di sini. Di Indonesia, di mana orang dihargai karena isi kantongnya dan bukan isi kepalanya, berlaku hukum “ada uang Anda dipuja, nggak ada uang Anda dinista”. Makanya nggak heran kalau urutan yang diutamakan dalam mempergunakan jalan dan parkir di sini adalah: mobil, motor, baru kemudian sepeda atau pejalan kaki. Buktinya, kalau kita datang ke hotel atau mall, di mana parkir untuk sepeda? Nggak ada Bos. La kalau parkir motor? Nun jauh di pojok, atau di basement paling bawah. Mobil? Di depan donk, atau dibasement yang dekat pintu masuk atau nggak jauh dari lift. Heran, padahal kalau mau dihitung-hitung parkir motor tuh bisa mendatangkan duit lebih banyak dari mobil, wong space untuk satu mobil bisa dipakai buat paling enggak empat motor.

Pejalan kaki dan pengguna angkot jelas paling sengsara. Di banyak tempat tidak tersedia trotoar, atau kalaupun tersedia, trotoar itu lebih sering diserobot motor atau warung tenda buat jualan pecel lele. Penyandang cacat apa lagi. Nggak ada tempat bagi mereka unless they have their own car.

Bensin murah, mobil butut karatan yang kalau nyantol orang bisa bikin tetanus dan harusnya jadi besi tua tetep boleh jalan, kredit mobil atau motor bisa tanpa DePe, dan masih banyak lagi kemudahan-kemudahan lain jelas bikin orang makin napsu punya kendaraan sendiri. Akibatnya, mau dibikin lebar selebar lapangan bola sekalipun, mau dibikin jalan layang sekalipun, jalanan tetap aja macet wong kendaraan pribadi jumlahnya nambah terus nggak terkendali.

Harusnya, penyediaan angkutan umum tuh didasari niat yang lebih mulia, misalnya penghematan energi, pengurangan polusi, atau ketertiban kota agar nyaman dihuni oleh penduduknya. Dengan motif seperti itu, prinsip “pokoknya orang terangkut” jelas nggak cukup. Kalau angkot tuh tepat waktu datang dan nyampainya, tarifnya murah atau gratis sekalian, nggak ngetem atau ugal-ugalan, nggak desek-desekan, bebas copet, bebas pengamen, bebas asap rokok, terminal dan haltenya nyaman gak bau pesing, sopir dan keneknya santun, aksesibel buat semua; sementara harga bensin mahal, harga beli dan pajak mobil selangit, tarif parkir bikin klenger; enggak usah disuruh juga orang pada rame-rame naik angkot.

Percayalah.

Senin, Oktober 19, 2009

Menteri Pemberdayaan Perempuan yang Profesional

Liburan hari Minggu pekan yang lalu saya sekeluarga pergi ke Plaza Indonesia, bukan gaya2an tapi hanya untuk memanfaatkan suasana yang santai dan enak untuk Leo berolahraga, kalau di rumah sumpek. Di tempat itu nyantai banget, cuci mata aja sama barang yang bagus2, sambil bawa bekal nasi padang dari rumah. Eh lha kok kita malah mendapati presentasi video dari mbak-mbak Jurnal Perempuan yang menceritakan kisah human trafficking. Jadilah Sambil mengawasi Leo yang muter2, saya dan istri malah terlibat intens dalam diskusi tersebut.

Video yang ditayangkan membuat saya tersengat dengan permasalahan bangsa ini, tentang masalah harga diri bangsa juga. Beneran nih, tema besarnya tentang perempuan Indonesia yang menjadi obyel ‘barang murah’, tidak hanya diperdagangkan tapi saya lebih pas menyebutkan diperbudakkan, dan segelintir oknum manusia Indonesia justru menikmati pendapatan besar dari situ.

Bagaimana abg-abg putri di kantong-kantong kemiskinan di Sambas dan sekitar perbatasan dengan Malaysia yang dijajakan ke Malaysia dan Taiwan, sungguh membuat saya terbelalak. Yang Melayu untuk Malaysia, yang keturunan Tionghoa untuk Taiwan. Yah dijajakan, dengan sangat murah malahan, karena tiadanya kompensasi materi buat mereka. Bahkan ada yang dipulangkan dalam keadaan cacat. Mereka menjadi TKW sekaligus budak nafsu majikan2 kejam di negeri serumpun.

Selain di Sambas, ada juga di Batam. Ada tempat penampungan para perempuan yang menjadi ‘istri kontrak’ untuk ekspatriat dari Singapura, Malaysia, dan beberapa negara lainnya. Keadaan mereka sangatlah tidak karuan. Saya gak punya kata-kata.

Dari diskusi didapatkan informasi bahwa daerah-daerah miskin di Indonesia potensial menjadi sumber human trafficking. Itu tersebar di seluruh Indonesia. Juga tentang TKW-TKW di negara2 Timteng yang bermasalah di sekitar pelecehan.

Lalu yang menjadi keprohatinan para aktivis perempuan ini adalah minimnya perhatian orang-orang yang mustinya melindungi segenap tumpah darah dan memajukan kesejahteraan umum. Para eksekutif dan legislatif terutama, lalu juga polisi, yang sayangnya mereka semua banyak yang gak ngerti. Mungkin juga menterinya juga gak ngerti. Ini kesimpulan saya, mbak2 aktivis gak ada yang ngomong begitu.

Nah, saya jadi inget sama kabinet yang bakal disusun SBY. Kayaknya boleh juga kalau jabatan Menteri Pemberdayaan Perempuan diisi oleh Mbak Gadis Arivia, yang aktivis perempuan buanget. Yang ngerti semua permasalahan negeri ini dalam ngurus perempuan. Mending daripada Dr. Mutia Hatta, apalagi calon yang jilid 2, Linda Agum Gumelar. Ntar dikira masalah perempuan cuman sekedar Miss Universe saja. Buat pantes2an di kabinet.

Mbak Mariana yang waktu itu presentasi jika jadi Mennakertrans tentu akan sangat berguna bagi TKW. Dia sempat saya komporin untuk mencoba berpolitik ria. Menurut saya, jika jadi menteri maka bisa langsung mewarnai kebijakan dan berkoordinasi dengan pucuk pimpinan lembaga2 lain yang perlu dilibatkan. Misalnya POLRI, Depkumham, dll. Biar rekomendasi pemecahan bisa langsung dilakukan.

Kalau SBY mau bikin kabinet profesional kayaknya perlu membuka cakrawalanya kembali. Bukan sekedar doktor lulusan universitas ternama aja, tapi juga melihat apa yang sudah dilakukan. Bukannya mikir: kalian bagus di aktivis, maka jadi aktivis aja. Pantesan, gak ada civil society yang aktivis anti korupsi yang dipanggil ke Cikeas, seperti usulan Efendy Gazali.

Karena SBY doktor, pantes kalau dia ngiler sama profesional2 yang doktor. Nah yang dipilih memang keren dari segi background pendidikan. Doktor ekonomi boo, dari kampus mbois di Amrik. Tapi lha kemampuannya medioker, bahkan gak sesuai sama sekali dengan sekolah yang tinggi buanget itu. Dua doktor ekonomi yang dipercaya menjadi bek dan kiper di sektor finansial Indonesia malah bikin blunder yang membuat gawang mereka jebol. Tidak sekali, malah berkali2, hingga mencapai 6,5 triliun. Itu uang semua rek, kalau dijadikan dawet, wah bisa seluruh Indonesia penuh dawet. Orang kemampuannya gak ada bagus2nya kok, kan mereka berdua lama sekantor sama saya, pas di kantor ini mereka itu gak berprestasi.

Ah sudahlah, kata temen saya, ”Ih siapa elu, udah jelas presiden bukan. Tim sukses aja mau ngaku banyak yang tau kalau cuman ngikut2 aja. Lha kok main nunjuk2 orang jadi menteri. Lha itu terserah SBY kan mau nunjuk siapa.

Ah, kali kata SBY, “ Ini kan udah profesional, setidaknya menurut saya. Kalau gak setuju ya silakan jadi presiden sendiri”.

Hmmmmm.... betul juga ya.....

Plaza Indonesia, 11 Oktober 2009

Selasa, September 15, 2009

KETIKA MUDIK LEBARAN TIBA

Menurut pendapat pribadi, definisi bebas dari mudik lebaran adalah peristiwa pergerakan manusia dalam skala besar dari rumah kedua (tempat mencari nafkah) ke rumah pertama (tempat lahir) dalam rangka silaturahmi dan bermaaf-maafan dengan kerabat setelah melaksanakan ibadah puasa ramadhan. Mudik lebaran sudah menjadi khasanah budaya milik bangsa yang konon hanya ada di Indonesia (mudah-mudahan tidak diklaim sebagai tradisi negara tetangga). Oleh karena itu, mudik tidak sekedar tradisi religius umat Islam, tetapi sudah menjadi milik seluruh komponen bangsa baik yang muslim maupun non muslim.

Hal yang menarik dari peristiwa mudik lebaran adalah adanya “pelanggaran” prinsip-prinsip ekonomi, terutama hukum permintaan. Dari sisi konsumen, besarnya permintaan suatu produk (demand) ditentukan oleh harga produk. Jika harga produk rendah, maka permintaannya cenderung meningkat. Sebaliknya jika harga produk tinggi, maka permintaannya cenderung akan menurun (kurva permintaan berbanding terbalik).

Sementara itu dari sisi produsen, besarnya penawaran ditentukan oleh permintaan dan harga yang terjadi. Jika permintaan dan harga tinggi, produsen berusaha menawarkan produk lebih banyak dengan harapan mendapat laba lebih besar. Sebaliknya jika permintaan dan harga menurun, produsen berupaya menurunkan supply produk untuk menekan ongkos produksi dan kerugian yang lebih besar (kurva penawaran berbanding lurus).

Selama event lebaran, katakanlah H-30 sampai dengan H+7, hukum permintaan seolah menyimpang dari yang seharusnya. Konsumen atau pemudik seolah-olah tidak mempermasalahkan berapapun harga yang terjadi (kurva permintaan menuju inelastis sempurna). Hal ini terlihat dari usaha keras pemudik untuk mendapatkan tiket lebaran baik kereta api, pesawat udara, maupun bus antar kota. Berapapun tiket kereta api eksekutif ditawarkan oleh PT. KAI, tidak sampai hitungan hari sudah ludes. Saking butuhnya, calon pemudik rela mengantri dan menginap di stasiun demi sebuah kenikmatan perjalanan mudik. Bahkan calo tiketpun menjadi andalan para pemudik. Padahal harga tiket 100 persen lebih mahal daripada hari-hari kerja biasa dan itu untuk pemberangkatan 30 hari kedepan.

Himbauan pemerintah agar pengusaha angkutan mematuhi tuslah yang sudah ditetapkan, seringkali dianggap angin lalu karena seperti yang sudah-sudah sanksi tidak pernah diterapkan secara tegas. Kenaikan harga tiket bus yang berlipat dari harga tuslah, tidak menyurutkan permintaannya. Tidak mengherankan jika pengusaha akan mengeluarkan semua bus-bus cadangan dan kadangkala mengesampingkan kelayakannya. Dalam perjalanan mudikpun, pemudik tidak mempermasalahkan tingkat kenyamanan yang seharusnya diterima sesuai dengan harga yang dibayarkannya. Pemudik sangat pemaaf atas kondisi ini sesuai dengan semangat Idul Fitri yang sedang berlangsung.

Selama perjalanan, pemudik akan menghadapi penggelembungan harga ( inflasi) yang mau tidak mau harus tunduk pada aturan main “penguasa kuliner jalanan” jika tidak ingin kelaparan atau kehausan. Restoran tempat singgah bus antar kota antar propinsi (AKAP) saling berlomba melambungkan harga. Sebotol air mineral 500 mililiter yang biasanya dijual 2000 rupiah menjadi 5000 rupiah. Harga yang tidak rasional dibandingkan 1 liter Pertamax yang “hanya” 6.400 rupiah. Sekali lagi, kondisi inleastisitas sempurna terjadi pada event ini, di mana pemudik harus memenuhi kebutuhan biologis esensialnya.

Selanjutnya ketika sampai di kampung halamannya, pemudik terjebak pada sikap konsumerisme yang berlebihan. Dengan kata lain mudah membelanjakan tabungan yang dikumpulkan berbulan-bulan untuk membeli barang-barang yang tidak terlalu dibutuhkan alias pemborosan. Pemudik membelanjakan tabungannya untuk oleh-oleh, sandang, perhiasan, atau alat elektronik sekedar menunjukkan bahwa dia manusia modern dan berhasil berkarier di kota. Sikap semacam inilah yang disebut oleh Chatib Basri (Kompas.com) sebagai demonstration effect yang merupakan perubahan format tabungan menjadi konsumsi untuk memamerkan keberhasilan dihadapan keluarganya.

Hal lain yang juga tak kalah unik adalah perilaku pemudik yang seolah-olah menisbikan adanya hukum berkurangnya tambahan kepuasan dari setiap tambahan barang yang dibeli (law of diminishing marginal utility). Dengan levelnya masing-masing, pemudik seolah-olah tidak dapat membedakan mana barang inferior, giffen, barang normal, atau barang supperior. Indikasinya, semua jenis barang tersebut permintaannya menjadi tinggi semua. Tiwul, nasi jagung, atau tempe bongkrek yang pada hari-hari biasa menjadi barang inferior yang lekat dengan kemiskinan, pada saat lebaran menjadi barang istimewa yang diburu oleh para pemudik yang “kangen” dengan masa lalunya.

Kesadaran akan betapa borosnya pemudik adalah ketika lebaran telah usai. Tidak berlebihan jika pemeo lebaran adalah lebar, bubar, habis-habisan, atau enthek-enthekan. Orang yang pada saat lebaran merasa kaya, dermawan, boros, dan ajib harus kembali seperti sebelum lebaran. Merasa miskin, penuh perhitungan, dan menjadi orang kebanyakan yang harus banting tulang untuk mengumpulkan kepeng-demi kepeng (menabung). Anehnya, kondisi ini akan terulang lagi pada lebaran-lebaran mendatang.

Tentunya event lebaran jangan hanya dipandang sebagai pemborosan semata. Banyak efek berganda yang bisa muncul dan sangat mungkin memberikan dampak perekonomian di daerah-daerah tujuan. Meskipun sifatnya tahunan, moment lebaran harus bisa dimanfaatkan untuk menggali, mengenalkan, atau menggelar potensi perekonomian daerah. Para pemudik jangan hanya “diporoti” dengan harga lebaran. Para pemudik harus diperlakukan layaknya calon-calon investor yang diharapkan akan menanamkan modalnya. Atau paling tidak akan menjadi duta investor yang akan mempromosikan potensi daerah sekembalinya mereka ke kota.

Pemerintah Daerah harus pintar memanfaatkan moment lebaran untuk meningkatkan potensi pendapatan daerah. Bukan dengan cara membebani berbagai pungutan kepada pemudik. Tetapi Pemerintah Daerah dapat menggelar acara-acara yang produktif seperti pameran-pameran produk unggulan daerah yang layak jual. Potensi wisata perlu dibenahi dan dipercantik agar pemudik merasa happy dan tidak sayang untuk membelanjakan uang sakunya. Selanjutnya, pelaku bisnis seperti penjual makanan khas daerah atau penyedia transportasi jangan aji mumpung dengan menaikkan harga secara gila-gilaan. Perlakuan ini akan membuat pemudik kapok, meski kapok cabe rawit.

Jadi ! Jangan jadikan pemudik sebagai “sapi perah” yang hanya diperah setahun sekali.


Gunarta – Perencana Bappenas

Jumat, September 11, 2009

MARGIN GAB PRODUK PERTANIAN

Awal Bulan Agustus 2009 ini penulis berkesempatan mudik ke Wates, sebuah kota kecil di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta untuk bersilaturahmi dengan kerabat di desa sekaligus melestarian budaya “ruwahan” untuk menyambut bulan suci Ramadhan. Untuk mencapai rumah, penulis harus melalui hamparan sawah yang pada saat ini tengah menghijau oleh tanaman palawija seperti jagung, kacang merah, bawang merah, cabai keriting, atau jajaran pohon kelapa dengan buah cukup lebat.

Sungguh merupakan pemandangan yang menyegarkan di tengah kesibukan sehari-hari di kota metropolitan seperti Jakarta. Penulis berasumsi bahwa dengan kondisi yang demikian, petani mestinya akan makmur dengan panen palawija yang melimpah. Secara keseluruhan hasil panen sepertinya akan bagus tahun ini, karena menilik cara budidayanya rata-rata telah mengadopsi teknologi pertanian meskipun dalam skala terbatas. Perkiraan panen melimpah tersebut, juga didukung oleh kondisi iklim yang cukup kondusif bagi tumbuhnya tanaman dan tidak adanya serangan hama penyakit yang dapat mengancam kegagalan panen.

Namun ketika ditanyakan kepada petani mengenai penjualan hasil panennya, di sinilah masalah kesenjangan mulai terlihat. Kalau di Jakarta satu butir kelapa dihargai 4.000 rupiah, maka di tingkat petani hanya dihargai kurang lebih 400 rupiah perbutir. Harga yang diterima petani ini belum dikurangi ongkos pembudidayaan, memetik, menguliti, atau waktu tunggu panen.
Memang ketika menjelang lebaran harga yang diterima petani bisa mencapai 5.000 rupiah perbutir, tetapi di Jakarta atau kota-kota besar lainnya bisa mencapai 15.000 rupiah perbutir. Sebuah margin gab yang luar biasa berlipat. Tidak mengherankan apabila petani terpaksa tidak melakukan pemanenan kelapa dan dibiarkan jatuh dengan sendirinya untuk mengakali ongkos produksi.

Komoditas lain seperti cabai misalnya, kurang lebih permasalahan yang dihadapi hampir sama. Bedanya, fluktuasi harga cabai cukup fluktuatif karena tergantung musim panen. Artinya ketika permintaan cabai meningkat sementara hasil panen terbatas, petani cukup menikmati hasil panennya. Tetapi ketika sedang panen raya dan harga jatuh, ibarat ada yang meminta cabai, petani akan menyuruh memetik sendiri semaunya. Bahkan tidak jarang, cabai dibiarkan membusuk dan mengering di rantingnya.

Margin gab ini tidak hanya dihadapi oleh petani di Wates saja, tetapi sangat mungkin dihadapi oleh seluruh petani di Indonesia. Tidak mengherankan jika petani di Indonesia identik dengan kemiskinan dan orientasinya adalah immanent (untuk memenuhi kebutuhan sendiri). Bahkan bagi kalangan muda pencari kerja, bidang pertanian dapat dikatakan sebagai bidang yang paling tidak diminati. Mereka lebih memilih pergi ke kota-kota besar untuk mengadu nasib, meskipun dengan bekal pendidikan dan ketrampilan yang sangat minim.

Dengan kepemilikan lahan rata-rata di bawah 0,5 hektar, petani dihadapkan pada ketidakefisienan pemanfaatan sarana produksi, jam kerja orang (JKO) yang berlebih, harga sarana produksi yang mahal, serta resiko kegagalan panen akibat “salah mongso” atau serangan hama penyakit. Selanjutnya ketika panen, jika tidak terjerat sistem permainan ijon, petani seringkali terbentur harga jual yang jatuh karena produk melimpah dan kurang kompetitif.
Kemampuan pengelolaan pasca panen yang terkesan tradisional dan kurang inovatif, menyebabkan value added produk pertanian di tingkat petani sangat rendah. Metode pengawetan, khususnya melalui pengeringan masih mengandalkan cahaya matahari yang memang cukup melimpah di negara tropis ini. Ini tidak menguntungkan, terutama bagi daerah-daerah pertanian dengan curah hujan yang tinggi. Akibatnya kualitas produk rendah dan rentan terhadap serangan jamur atau serangga.

Dalam hal membuat produk agar terkesan menarik dan berkualitas, petani kita masih tertinggal dibandingkan dengan petani Thailand. Hal ini dapat dilihat di toko-toko buah dipinggiran jalan sekalipun, kemasan dan warna buah impor dari Thailand sangat menarik dibanding buah lokal yang terkesan kurang menarik, “burik”, dengan bentuk yang kurang simetris. Dari rasanyapun, buah impor lebih legit dan manis dibandingkan buah lokal yang seringkali masam karena proses budidaya dan grading yang kurang bagus.

Dari uraian tersebut di atas, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa petani kita harus ditolong terutama dari aspek proses produksi dan aspek pemasaran hasil pertanian. Petani harus diubah pola pikirnya dari petani tradisional yang berorientasi immanent menjadi petani yang berorientasi bisnis dan berwawasan keluar (outward looking). Petani perlu diarahkan menghasilkan produk-produk pertanian yang kompetitif bernilai ekonomi tinggi yang layak bersaing, minimal di lingkungan ASEAN.

Oleh karena itu, petani secara politis tidak hanya didorong atau dilibatkan pada upaya-upaya pencapaian swasembada, katakanlah beras. Sebuah produk yang nilai politisnya sangat tinggi, tetapi kurang mensejahterakan para petani. Kalaupun akan dilibatkan secara politis, mereka layak mendapatkan kompensasi seperti subsidi pupuk, obat-obatan, dan jaminan penyerapan hasil panen dengan harga yang memadai.

Dari aspek pemasaran hasil pertanian, perlu diupayakan peningkatan pemahaman petani tentang pengelolaan pasca panen. Di era pasar bebas ini, petani jangan hanya berorientasi pada kuantitas tetapi kualitas. Pengetahuan tentang pengawetan, penyimpanan, grading, atau packing yang menarik menjadi hal penting untuk meningkatkan daya saing. Jika langkah ini tidak ditempuh, selamanya produk pertanian kita hanya menjadi second choices di tengah membanjirnya produk pertanian luar negeri.

Tugas pemerintah untuk menolong petani. Paling tidak terletak pada penjaminan ketersediaan sarana produksi yang meliputi benih berkualitas, pupuk, dan obat-obatan dengan harga terjangkau. Pemberian subsidi sarana produksi merupakan hal yang wajib dilakukan pemerintah dengan mekanisme yang tidak berbelit-belit dan tidak melibatkan rantai distribusi yang panjang lebar.

Untuk melaksanakan ini, kiranya pemerintahan saat ini perlu menengok atau merujuk kebijakan pemerintahan terdahulu seperti untuk swasembada beras melalui program Bimas, Inmas, Insus, dan Suprainsus yang cukup berhasil mendongkrak produksi beras. Sementara itu untuk mendukung distribusi saprodi dan menampung hasil produksi peran Koperasi Unit Desa (KUD) perlu dihidupkan kembali. Penulis masih ingat pada tahun 80-an, KUD sangat berperan sekali dalam mendukung program-program swasembada pangan yang didukung BRI, perguruan tinggi, dan penyuluh pertanian. Langkah ini memang terkesan melanggar prinsip-prinsip pasar bebas dalam kerangka WTO. Tetapi, sekali lagi. Petani perlu ditolong.

Gunarta – Perencana Bappenas

Rabu, Agustus 26, 2009

Puasa bagi orang Jawa

Apa beda orang Betawi dan orang Jawa dalam memandang sholat dan puasa?

Kolega seniorku di kantor suatu ketika pernah cerita anekdot yang entah benar entah ngawur tentang orang Betawi. Buat masyarakat Betawi, kata dia, sholat lebih penting dari puasa. Syahdan, di suatu siang yang terik di bulan Ramadhan ada orang Betawi dengan nikmatnya minum es cincau. Baru tiga teguk tuh es dia minum, azan Dhuhur berkumandang, dan serta merta dia tinggalkan si es cincau untuk ambil air wudhu dan sholat.

Nah, kalau orang Jawa sebaliknya. Buat orang Jawa, puasa lebih penting daripada sholat. Dulu waktu aku kecil di Desa Kramas di pinggiran Semarang yang masih jawa banget, banyak orang yang puasa Ramadhan, full sebulan penuh, tapi sholatnya absen mulu. Kelar sahur molor lagi nggak nunggu Subuh. Dhuhur lewat, Ashar pun bolong. Habis buka nggak pakai sholat Maghrib, azan Isya dicuekin boro-boro tarawih.

Untuk sholat penting puasa nggak penting model orang Betawi, jujur aku nggak bisa ngejelasin meski sekedar penjelasan ngawur tanpa dasar teori.

Sedangkan untuk puasa penting sholat nggak penting model orang Jawa, mungkin begini kira-kira riwayatnya. Jauh sebelum Islam masuk tanah Jawa, orang Jawa sudah punya habit puasa sebagai bagian dari tradisi leluhur. Bagi orang Jawa, ada dua amalan yang dianggap paling cespleng untuk menggapai tujuan hidup atau untuk makin mendekatkan diri pada Yang Memberi Hidup, yaitu melek (mengurangi tidur) dan ngelih (puasa). Banyak tembang kuno yang syair mengingatkan kita untuk menjalani dua hal itu, misalnya:

“Dadiya lakunireki, cegah dhahar lawan guling,...” (jadikanlah sebagai ibadahmu, mencegah makan dan tidur,...);

atau

“Ojo turu sore Kaki, ana dewa nganglang jagad, nyangking bokor kencanane, isine donga tetulak, sandang kelawan pangan, tur iku bageyanipun, wong melek sabar narima” (Jangan tidur sore, Nak. Ada malaikat sedang patroli. Dia akan bagikan rejeki kepada mereka yang kuat menahan kantuk, sabar, lagi tawakal).

Kuat lapar dan betah nggak tidur. Itulah. Makanya, dalam masyarakat Jawa banyak kita temui berbagai jenis amalan puasa dengan beraneka tujuan, mulai dari mencari kesempurnaan hidup, mendekatkan diri kepada Tuhan, minta jodoh, mencari kesaktian, hingga nyatet orang. Ada puasa Senin Kamis ala Jawa yang manteng sehari semalam nggak hanya dari Subuh sampai Maghrib, ada puasa ngrowot (cuma makan umbi-umbian), ada puasa ngalong (menggantung di pohon semalaman posisi kaki diatas), puasa mutih (berpantang garam), puasa weton (puasa pas hari-pasaran kelahiran), puasa kungkum (sambil berendam semaleman di pertemuan dua arus kali), dan masih banyak lagi.

Sedikit berteori nih. Tata nilai pada hakekatnya cenderung status quo. Maksudnya, jika pada satu masyarakat diperkenalkan sebuah nilai baru, nilai yang lama cenderung resisten. Butuh waktu untuk transformasi dari tata nilai lama ke yang baru. Nah, kecepatan transformasi itu sendiri berbanding lurus dengan seberapa banyak atau seberapa besar unsur-unsur dalam tata nilai baru itu sesuai/mirip dengan tata nilai yang akan digantikan (halah, ngomong opo to Her, Her...?).

Gampangnya gini, makin banyak unsur yang mirip, makin cepat nilai baru diterima. Itulah kenapa wali favorit orang Jawa tuh Sunan Kalijaga, karena sementara wali-wali lain dakwah pakai jubah Arab lengkap dengan sorban, beliau memilih surjan (baju Jawa) dan blangkon. Sementara yang lain dakwah menggunakan rebana, beliau pakai gamelan dan wayang kulit. Kuncinya, Sunan Kalijaga adalah wali yang nilai baru yang ditawarkan paling banyak miripnya dengan nilai yang sudah existing. Perubahan yang dia lakukan lebih gradual, sedikit-demi sedikit, nggak langsung melarang ini itu. Wayang kulit boleh, tapi mukanya jangan gambar muka manusia. Kenduren/selametan boleh, tapi berdoanya jangan kepada hantu penunggu pohon melainkan kepada Allah. Nyekar ke makam silakan, tapi jangan minta ini itu ke arwah leluhur melainkan memohon kepada Allah agar si leluhur itu dikasih ampun atas dosa-dosanya dan diterima amal ibadahnya. And so on.

Di sisi lain, perubahan yang bersifat radikal, resiko timbulnya chaos bakalan lebih besar daripada perubahan yang bersifat gradual. Bayangin, orang yang seumur-umur gak pernah makan keju, makannya nasi ama tempe mulu, tiba-tiba disuruh ngegadoin keju satu piring. Tanggung bakalan langsung mencret tuh orang. Tapi, kalau keju itu dicampurkan ke nasi hari ini sesendok selama seminggu, terus minggu depan 2 sendok selama 2 minggu, dst, adaptasi si perut bakalan berjalan lebih mulus.

Nah, ketika Islam disebarkan oleh para wali, ajaran yang dibawa terutama rukun Islam ketiga yakni puasa klop bener dengan ajaran puasa para leluhur orang Jawa. Puasa jadi ibadah favorit orang Jawa karena sudah ada tradisinya. Sementara sholat enggak ada akar tradisinya. Sayangnya, untuk beberapa kelompok masyarakat di Jawa, ajaran Sunan Kalijaga itu belum tuntas, mungkin karena beliau mikir, “yang penting letakkan dulu dasar-dasarnya, biar ntar ulama setelah aku yang makin menyempurnakan”. Walhasil, banyak orang di Jawa yang nyembelih ayam sudah baca basmalah, nyebut nama Kanjeng Nabi Muhammad, eh habis itu masih juga nyebut-nyebut Kiai Lurah Semar dan Batara Guru.

Jumat, Agustus 07, 2009

Mbah Surip, Selamat Jalan

Temen2 lesehan,

Ini catatan yang saya tulis sehari setelah meninggalnya Mbah Surip di blog pribadi saya.

Mbah Surip

Selamat jalan Mbah Surip..... I love you full....

Awal kemunculan Mbah sebenarnya tidak terlalu menarik perhatianku. Entah karena rutinitas harian yang membelengguku atau yang lainnnya, yang jelas aku tak menoleh dengan lantunan lagu Mbah yang jenaka.

Tapi lihatlah dua anakku, waktu itu si kecil masih 9 bulan, dan kakaknya 5 tahun. Keduanya, terutama si kecil, langsung jatuh cinta sama sentuhan musik Mbah yang ringan, ditambah lirik yang sangat gampang dicerna oleh semua lapisan. Dua wajah lugu langsung mengungkapkan kesukaannya kepada Mbah.

Dari situ aku mulai mengikuti perjalanan Mbah. Aku tau ternyata Mbah adalah seorang pejuang sejati dalam arti yang sesungguhnya. Yah Mbah harus berjuang hanya demi secangkir kopi baru kemudian mencari yang lain untuk sesuap nasi. Tapi di tengah deru kehidupan Mbah yang berat, jiwa Mbah yang selalu mengundang keceriaan seolah menghapus mendung yang menggelayuti jiwa Mbah. Beratapkan langit, Mbah terus menyusuri semua sudut ibu pertiwi dengan tertawa. Ha ha ha ha.... Tak terlihat keperihan disana.

Keperihan yang lain adalah kegelisahan dan kerinduan yang dalam akan keluarga. Mbah sangat ingin membahagiakan keluarga, moril dan materiil. Mungkin kasih dan sayang Mbah secara moril pasti tidak terhingga, sebagaiman yang Mbah ucapkan setiap kali... I love you full. Tapi materiil, baru di akhir2 hidup Mbah mulai memberikan. Takdir Tuhan, Mbah memang seperti lebah. Sekali berarti sudah itu mati.

Mbah adalah inspirasi bagi kita semua. Seharusnya para pemimpin berkaca kepada Mbah, mereka harus menghibur rakyatnya. Tidak memberi angin surga, apalagi menakut-nakuti rakyatnya. Mbah memberi contoh bagaimana menikmati hidup di dunia walaupun seberapa pahitnya.

Aku sendiri sudah 10 tahun lebih jadi birokrat. Perjalanan panjang itu banyak suka dan dukanya, tetapi saya lebih banyak mengeluh tentang hal yang buruk2 saja di birokrasi. Disuruh ini-itu yang gak bermutu, makan duit subhat, jalan-jalan tanpa guna, dan lain2. Mbah Surip benar-benar menginspirasi bagaimana melewati waktu sebagai abdi negara yang bisa membuat rakyat tertawa.

Seandainya para birokrat (baik yang karir maupun politik, di lembaga legislatif, eksekutif, maupun yudikatif. Mau PNS, polisi, tentara, hakim, jaksa. Mau presiden, menteri, gubernur, bupati, walikota, sampai lurah) memakai filsafat Mbah, aku yakin tidak akan ada lagi koruptor. Karena koruptor menyakiti hati rakyat, tidak menghibur.

Kalau mereka semua ingin rakyat tertawa, pasti mereka tidak akan bikin anggaran untuk memperbaiki rumah anggota DPR 400 milyar, mobil pejabatnya gak lebih dari 1500 cc, bikin studi cuman buat ngabisin uang aja, manaruh sembarang orang untuk jadi duta besar, direktur dan komisaris BUMN, dan jabatan2 lain.

Kalau semua duit APBN untuk rakyat, pastinya rakyat akan senang. Akan tertawa. Ha ha ha ha.... I love you full....

Sekali lagi, selamat bertemu dengan 'My Darling' Mbah di alam sana.....

Rabu, Mei 27, 2009

Teater Barca dan MU, Suguhan Dekade Ini

Hingar bingar politik Indonesia kali ini musti menyingkir dulu. Walapun politisi-politisi Indonesia mencoba ikutan membaur dengan menyatakan dukungan ataupun komentar, tetaplah stadion Olimpico Roma yang menyuguhkan partai Barca vs MU menjadi perhatian utama jagad publik tanah air.

Yah, sebagai birokrat, malam nanti akan membuat sejenak saya melupakan kepenatan pekerjaan kantor dan masa tunggu tanggal muda yang kelamaan. Udahlah, kita kembali ke lapangan.

Barca, tim dengan permainan ‘total football’ dengan aroma latin khas tim Catalan terbukti menjadi pasukan paling produktif dalam Liga Champions (LC) musim 2008/09 ini. Tidak kurang dari 33 gol mereka lesakkan ke gawang lawan dari bombardir Messi, Eto’o, Henry, Iniesta, Xavi, Krkic, bahkan Pique.

Menyerang adalah filosofi tim ini yang dibangun sejak kedatangan si pencipta total football Rinus Michels pada tahun 1970-an, dia meletakkan fondasi tim yang khas dengan permainan menyerang ala Belanda yang diramu dengan bakat-bakat latin Catalan. Michels hanya berjaya di La Liga dan belum memberikan trophy Eropa bagi Barca. Tapi penerusnya adalah pangeran total footbal, Johann Crujff pada dekade 1990-an yang berhasil merajai La Liga dan sempat memberikan trophy Liga Champions pertama bagi Barca pada musim 1991/92 dan runner-up pada 1993/94. Lalu terakhir oleh generasi emas total football Belanda di Euro ’88, Frank Rijkard pada dekade 2000-an yang memberikan gelar juara Eropa pada musim 2005/06. Kini warisan sepakbola memikat itu diteruskan oleh pelatih lokal berbakat didikan Johann Cruijff, Josep ‘Pep’ Guardiola.

Filosofi total football dimana semua pemain bergerak bergelombang dengan sentuhan dari kaki ke kaki telah menghancurkan Sporting Lisbon, Shakhtar Donets, dan FC Basel di penyisihan grup C, lalu raja Perancis di 16 besar, Lyon dengan agregat 6-3 serta raja Jerman di 8 besar, Muenchen dengan agregat 5-1.

Seorang arsitek total football lainnya, Guus Hidink dengan Chelsea-nya, mencoba menghadang di semifinal dengan metode Cattenacio Italia. Pemain-pemain Chelsea dengan postur badan yang superior, Ballack (189 cm), Terry (187 cm), Alex (186 cm), Drogba (188 cm), Cech (191 cm), hampir berhasil mempecundangi Barca sampai menjelang detik-detik terakhir permainan. Tapi 2 bocah ajaib dengan tinggi badan 170 cm, Messi (assister) dan Iniesta (scorer) yang hanya didukung 8 orang lainnya (Abidal di kartu merah) menghentikan sebuah sistem anti total football ala Guus Hidink. Sebuah semifinal dramatis yang mungkin bisa disaingi oleh final LC musim 1998/99 ketika MU mempecundangi Muenchen dengan 2 gol lewat setpiece Beckham pada saat-saat terakhir.

MU sendiri, sang juara bertahan, adalah asuhan si gaek Sir Alex Ferguson sejak 1986 silam. MU adalah juara Eropa pada 1967/68, 1998/99, dan tahun lalu 2007/08. Dua gelar terakhir dipersembahkan oleh Fergie, sementara gelar pertama oleh Sir yang lain, Matt Busby. Pelatih yang mengasuh MU lebih dari 23 tahun ini adalah penganut sepakbola efektif yang mengutamakan keseimbangan di semua lini. Sistem yang sederhana yang disertai strategi yang tepat dalam melawan setiap tim yang dihadapi memperlihatkan intelegensia seorang Fergie dalam meramu MU. MU adalah tim yang sulit dikalahkan walaupun dalam keadaan tertinggal. Kita bisa melihat ini pada saat MU-Juve di perempat final musim 1998/99, Muenchen di final 1998/99, serta Roma pada perempat final 2004/05.

Pada LC musim ini MU, walaupun sedikit kalah mengkilat dibanding Barca, juga tidak kurang elegannya dalam melewati fase-fase yang menentukan dalam perjalanan menuju Roma. Kalau Barca paling produktif dengan 33 gol, MU hanya 18 gol tapi justru paling sedikit kebobolan, hanya 8 gol sementara Barca 13 gol. Perjalanan MU seperti tim Panser Jerman, makin lama makin panas dan kencang. Diawali laga-laga kurang meyakinkan di fase penyisihan Grup E dimana hanya menang 2 kali melawan Aalborg dan Celtic tanpa bisa mengalahkan Villareal, toh MU tetap lolos sebagai juara grup.

Perjalanan berikutnya juga masih dilewati dengan ‘harap-harap cemas’. Imbang dengan Inter Milan di San Siro tapi mempecundanginya dengan 2 gol di Old Trafford di 16 besar. Lalu FC Porto dilibas dengan sebuah gol tunggal spektakuler Ronaldo di Porto setelah menahan imbang 2-2 di Manchester. Makin lama makin panas, Arsenal jadi korban di semifinal dengan 2 kekalahan, 1-0 di Old Traford dan 3-1 di Emirates Stadium.

Ancaman untuk Barca akan dimulai dari Pemain Terbaik Dunia 2008, Ronaldo, si bandel nan gempal, Rooney, si stylist yang mematikan, Berbatov, dan si nakal yang pantang menyerah, Tevez. Mereka akan bersaing dengan penyihir cilik ajaib yang runner-up Pemain terbaik dunia 2008 dan kandidat tebaik dunia 2009, Lionel Messi, pembunuh di kotak penalti, Eto’o, penari Perancis yang menemukan kembali permainannya, Henry, serta kejutan dari bocah asli Catalan, Krkic.

Lini tengah akan bertempur sang orkestra Barca, Xavi, dibantu si pengejut, Iniesta, serta penjagal yang peredam, Yaya Toure melawan efektifitas Carrick, kejeniusan Scholes, dan pemuda yang visioner, Anderson.

Di belakang Barca akan kehilangan sang kapten Alves dan Abidal (masing-masing skorsing kartu kuning dan kartu merah) serta Marques yang cedera sehingga akan menyisakan Puyol, Pique dengan beberapa alternatif pengganti, bisa Sylvinho, dan kembali menarik Toure berduet dengan Pique di belakang dan menjadikan Keyta atau Helb mendampingi Xavi dan Iniesta. Sementara MU turun fultim dengan formasi Ferdinand, Vidic, Evra, dan Neville. Masing-masing akan digawangi 2 kiper yang masih dipuncak penampilan, van Der Sar dan Valdes.

Nah, perhatian dunia tentu akan menuju kepada 2 pemain terbaik dunia dengan posisi sama, penyerang sayap. Yah Ronaldo dan Messi, yang satu high profile, meledak-ledak, satunya lagi sangat low profile. Tapi untuk eksplosifnya jangan ditanya, dua-duanya dahsyat.

Ronaldo telah membuktikan dirinya sebagai penyerang sayap paling berbahaya di dunia pada musim lalu yang dilengkapi dengan gelar juara, dan kini Messi akan mencoba membuktikan bahwa singasana Ronaldo sudah layak dia ambil dimana sementara dia unggul dalam perebutan sepatu emas tahun ini, 8 gol dibanding 4 gol.

Saya lebih memilih Messi dan Barca yang akan berjaya di tahun 2009 ini, tetapi kalaupun tidak pertandingan nanti malam tetap akan saya kenang sebagai momen yang indah dalam persepakbolaan moderen.

Senin, Mei 18, 2009

Boediono di Mata Saya

Pak Boediono, mungkin Bapak tidak akan mengingat satu momen di tahun 1999, waktu itu keluarga Bapak dalam suasana makan sahur di bulan Ramadhan, lalu ada 2 orang pegawai Bappenas yang datang ke rumah Bapak di Mampang. Yang satu seumur Bapak, yang satu lagi masih sangat muda, mereka mengantar draft nota keuangan untuk RAPBN 1999/2000 yang masih dalam status rahasia. Seperti biasa, Bapak tersenyum hangat, dan si anak muda sangat bangga ikut melakukan sesuatu yang penting bagi bangsa…

Anak muda itu, ya saya sendiri. 10 tahun yang lalu Bapak masih kelihatan segar dan muda, apalagi saya…. eits, malah ngomongin yang gak penting….

Lupakan saja itu, saya yakin Bapak gak bakalan ingat, tetapi jika ini dibaca oleh orang2 yang mencap Bapak itu Islam abangan alias KTP doang, maka momen itu yang akan menepis anggapan itu. Stigma itu melekat dan sudah tersebar luas di kalangan Bappenas. Tapi saya tidak begitu risau dengan itu, bagi saya manusia di mata Tuhan adalah berdasarkan ikhlas hatinya serta perbuatan yang dilakukan.

Hari Jumat kemarin, Bapak resmi jadi cawapres mendampingi SBY. SBY-Boediono adalah sama2 orang Jawa Timur, sama seperti saya juga. Kampung SBY di Pacitan, Bapak di mBlitar, saya sendiri di mBatu, satu setengah jam dari tempat Bapak (biasanya orang Jawa suka menambahkan huruf m untuk menyebut kota2 yang berawalan B). Tapi perilaku Bapak dan SBY sangat2 bukan orang Jatim. Anda berdua terlalu santun. Tapi sekali lagi, buat apa manis di mulut tapi pahit di hati. Bukankah Tuhan hanya menilai makhluknya dari perbuatan dan hatinya, bukan kemanisan mulut yang beracun. Mudah2an tidak ada racun itu.... Saya harap, bangsa ini tidak memilih Bapak karena gaya Bapak, tapi lebih atas kemampuan Bapak mengangkat bangsa ini dari keterpurukan.

Dengan Bapak jadi cawapres, saya sangat bangga. Pertama, satu2nya birokrat yang awal karirnya dari Bappenas menjadi cawapres (Bapak sebelumnya penuh menjadi dosen di UGM, lalu masuk Bappenas dan langsung menjadi eselon 1), dulu Pak Emil Salim gagal menjadi calon, lalu karir politiknya selesai. Kedua, Bapak adalah seorang ekonom, ini akan menjadi lompatan agar para ekonom tidak lagi berkoar di belakang meja, tapi juga turut ‘nyemplung’ menangani masalah. Banyak ekonom di Bappenas yang bahasa kerennya under-employment. Pekerjaan D-3, tapi ijazah S-3. Atau ijazah S-3, kualitas D-3 (hue he he he)....

Bapak menjadi cawapres dengan stigma yang lain di luar abangan, yaitu agen neoliberal. Ini apa juntrungannya, saya sendiri gak begitu mengerti. Mungkin, Bapak dianggap sebagai ‘pemuja’ pasar bebas. Gimana cara menilainya, saya sendiri gak paham. Saya juga gak tertarik atas pembicaraan ini. Saya lebih tertarik membicarakan prestasi Bapak.

Sepanjang karir Bapak, lompatan terbesar adalah ketika Bapak menjadi Deputi Fiskal dan Moneter di Bappenas tahun 1988 lalu. Setelah sebelumnya berkutat dengan kampus dan penelitian, Bapak masuk sebagai pengambil kebijakan. Lompatan kedua adalah ketika Bapak menjadi Kepala Bappenas setelah ‘menganggur’ selama 1 tahun lebih setelah Bapak diberhentikan dari jabatan Direktur BI (level sekarang Deputi). Setelah lompatan yang kedua ini, Bapak mendapatkan kesempatan yang besar untuk menjadi bagian pengambil kebijakan2 penting di Indonesia, sampai kini. Jadi, kantor di Taman Suropati ini adalah kawah candradimuka bagi Bapak untuk mengembangkan sayap di perpolitikan tanah air.

Prestasi Bapak di birokrasi dan sebagai pengambil kebijakan, dari pengamatan saya, adalah biasa-biasa saja.

Ketika selama 5 tahun Bapak menjadi Deputi Fiskal dan Moneter di Bappenas (1988-1993) tidak ada yang menonjol selama kurun waktu tersebut. Mungkin juga karena kebijakan2 sebelumnya yang memang sudah berjalan tinggal melanjutkan saja. Sebenarnya ada ruang bagi Bapak untuk membuat terobosan, yaitu memikirkan kembali konsep fixed rate pada kurs rupiah. Seandainya Bapak mulai melontarkan gagasan pada saat itu, mungkin saya masih bisa menikmati 1 dollar As sebesar Rp. 2500.

Setelah itu, Bapak ke BI, ini yang saya tidak tahun prestasi Bapak. Yang jelas, pada tahun 1997 Bapak terpaksa kembali cuman menyandang sebagai dosen FE UGM. Perbankan Indonesia mengalami masa paling buruk justru ketika Bapak menjadi pimpinan di BI. Kenapa Bapak diturunkan bersamaan dengan beberapa Direktur yang kemudian bermasalah hukum, saya sendiri kurang tahu. Sampai sekarang, toh Bapak aman2 aja.

Nah, setelah itu Bapak oleh Habibie dinaikkan lagi untuk kembali ke Taman Suropati, kali ini memimpin Bappenas. Saat itu pula saya bergabung ke Bappenas, di kedeputian yang mengurusi APBN.

Ini beberapa catatan saya. Pertama, Bapak memimpin tim dalam melakukan penjadwalan ulang pembayaran pinjaman luar negeri. Bapak sukses dalam misi tersebut, tapi membebankan utang tersebut kepada generasi mendatang.

Kedua, Bapak adalah salah satu pengambil keputusan dalam penandatanganan Letter of Intent (LoI) Indonesia-IMF. Ini konsekuensinya lumayan banyak. Dari adanya utang domestik yang sangat besar, sampai setengahnya PDB (ditambah utang luar negeri maka jumlahnya mencapai 90-95 persen dari PDB), privatisasi BUMN, lalu pemisahan BI dari struktur pemerintahan, serta menjadikan Departemen Keuangan sebagai lembaga super power. Sebenarnya masih banyak sih, cuman waktu itu males bacanya, jadinya ya nggak bisa akurat.

Lalu, sekarang bapak adalah seorang politisi yang ekonom, atau ekonom yang politisi. Tapi lebih bagus Bapak adalah politisi yang ekonom. Kenapa? Karena ekonom adalah agen yang bisa meminimalkan biaya dengan pencapaian tujuan yang maksimal (kalau bapak mengajar mungkin bunyinya begini: minimize cost subject to output... he he he). Dengan biaya sedikit untuk mencapai posisi wapres. Bener2 brilian untuk hal yang satu ini.

Jika Bapak nanti terpilih jadi wapres mungkin Bapak harus memikirkan seseorang ini.

Pak Sahroni, dia tukang jualan gado2 di belakang Bappenas. Bapak mungkin gak kenal dia, tapi makanan yang ada di meja Bapak sesekali adalah dari tangan Pak Sahroni. Dia beserta konco2nya ingin hidupnya lebih tenang. Dia ingin mendapatkan iklim ‘pasar bebas’ dimana ketika mereka jualah tidak harus berhadapan dengan pungutan2 serta petugas ketertiban yang suka kucing2an dengan mereka.

Pak Sahroni ini, di Indonesia jumlahnya 65 persen (atau lebih dari 70 juta jiwa) dari seluruh tenaga kerja aktif di Indonesia (dari data BPS, orang dengan status pekerjaan 1 dan 2: usaha sendiri tanpa pegawai dan usaha dengan dibantu sedikit pegawai). Bapak boleh memperhatikan pasar modal (yang biasanya menjadi tolak ukur bahwa pasar bergerak positif dan negatif) yang hanya melibatkan kurang dari 1 juta orang.

Orang model Pak Sahroni ini banyak yang manjadi petani, nelayan, pedagang kecil, dll. Sebagian besar masih miskin. Cobalah main ke Pasar Minggu (Bapak kan tinggal di Mampang, deket kok ke Pasar Minggu) pas subuh. Disitu, banyak ibu2 yang menjadi pedagang tangguh tapi penghasilannya sangat2 kecil. Atau Bapak bisa ke pinggiran pantai, mulai dari Muara Angke aja yang deket, disitu nelayan juga banyak yang hidupnya pas2an. Petani, apalagi.

Ilmu ekonomi yang Bapak pelajari dan ajarkan sangat jauh dari penyelesaian masalah2 ini. Dan Bapak oleh SBY ‘dijerumuskan’ untuk menyelesaikan masalah itu.

Untuk Bappenas, baiknya Bapak sekalian membubarkannya sekalian. Kalau tidak, berarti ada sharing power dengan Depkeu, mengembalikan anggaran pembangunan ke Bappenas. Bubar atau tidak, seharusnya remunerasi bisa dinikmati semua PNS, tidak hanya pegawai Depkeu. Kalau memang lembaganya gak penting, bubarkan.

Sebenarnya saya ‘ngeman’ kalau Bapak jadi wapres. Lebih bagus Bapak jadi Gubernur BI, lebih cocok dan sesuai dengan keahlian Bapak. Kalau memakai lagu Padi, syairnya adalah... tetaplah menjadi bintang di langit....

Tapi sudahlah, tawaran sudah Bapak terima, meskipun saya gak yakin Bapak akan berhasil..... berjalanlan......

Selasa, April 28, 2009

Ambisi

Ambisi
Ngarto Februana (Dimuat di Jawa Pos 07/06/2003)

Jelas sekali: sebuah rumah misterius. Tidak megah, tapi cukup besar. Berpagar tembok setinggi dua meter. Pintu pagar besi, yang selalu tertutup. Mobil masuk, pintu dibuka. Lalu ditutup kembali. Mobil keluar, pintu dibuka. Lalu segera pintu ditutup kembali.

Petugas di pintu gerbang tampak serius sekaligus misterius. Sirine meraung-raung. Tiga mobil Kijang polisi meluncur menyatroni rumah itu. Polisi berloncatan dari Kijang, dengan siaga senjata di tangan, menyebar ke semua penjuru. Bergerak mengepung rumah. Suara tembakan: dor, dor, dor. Sirine terus meraung-raung. Iruk-pikuk. Gambar-gambar dramatis! Seru!

"Lima iklan sudah menunggu," ujar Santi, membuyarkan lamunan Keda.

"Kalau kita dapat berita seperti yang aku bayangkan," kata Keda.

"Apa itu?" tanya si cantik Santi, karyawan bagian marketing, yang duduk dengan badan agak doyong ke depan. Kancing baju bagian atas sengaja dilepas, sehingga tampak belahan dadanya yang putih mulus mengintip genit.

"Penggerebekan pabrik narkoba," cetus Keda. "Pasti rating-nya tinggi. Iklan banyak. Masyarakat kita ini suka menonton penderitaan orang lain. Senang melihat orang lain sedih. Senang menonton orang berduka, apalagi yang ada action-action-nya. Suka adegan dar der dor dan darah, darah, darah, air mata."

"Nah, itu peluang yang harus terus dikejar," komentar Santi.

"Tentu. Dan kita sudah membuktikan. Satu koma dua miliar dalam waktu dua bulan untuk acara yang berdurasi 30 menit. Angka yang fantastis, bukan."
Keda tertawa, bangga pada prestasinya sebagai news producer KimpeTV, sebuah stasiun televisi swasta. Dialah yang menggagas acara Berita Kriminal Aktual.
Rudi, kamerawan muda yang baru tiga bulan bekerja di KempeTV melintas tanpa memperhatikan Santi dan Keda.

"Rudi," panggil Keda sambil melambaikan tangan.

Rudi menoleh.
"Wah, gambar kau jelek sekali kemarin," kata Keda.

"Yang mana, Mas?"

"Interogasi maling ayam. Masak wajah polisinya kalem banget. Bikin galak, dong. Suruh polisinya bentak-bentak tersangka. Bentakannya mesti keras biar dramatis," ujar Keda.

"Lo, itu kan tugas reporter. Saya kan cuma nge-shot," jawab Rudi membela diri.

"Reporter yang harusnya ngarahin polisi."

"Kalau gambarnya begitu, penonton tak suka. Kamu juga mesti mengingatkan. Pokoknya dapatkan gambar-gambar yang penuh action. Rating, rating, iklan, iklan. Mengerti kamu?"

"Ya, Mas."

"Eh, yang itu. Pemerkosaan. Aduh, gambarnya jelek sekali. Dapatkan gambar korban sedang menangis. Ini akan menimbulkan rasa haru penonton. Kalau nggak menangis, suruh menangis dulu, baru di-shot."

"Ya, Mas." Rudi berlalu sambil menggerutu pelan, "Repot liputan kriminal. Mending ngeliput gosip artis-artis."
Handphone Keda berdering. Keda melihat nomor telepon di monitor. Segera diangkat handphone model terbaru itu. "Halo, Ndan ("komandan", panggilan akrab untuk pimpinan di jajaran kepolisian, Red.). Ada berita dahsyat?" ucap pria bertubuh atletis itu.

"Dua jam lagi diadakan penggerebekan pabrik narkoba," terdengar suara dari seberang. Nadanya berat dan mantap.

"Nah, persis yang barusan aku bayangkan. Tapi, ada action-action nggak? Kalau nggak ada, kami tak mau datang," kata Keda.

"Tentu. Tentu. Jangan khawatir. Pasti ada peluru meletus. Ada darah mengucur," suara perwira pertama itu dari seberang. Nada suaranya mantap dan sepertinya mengandung optimisme, termasuk harapan untuk kenaikan pangkat.

"Oke, Ndan. Kami segera meluncur ke sana."
Keda girang. "Berita bagus. Rating bakal tinggi. Atur antrean iklannya," kata Keda.

"Bayangkan, penggerebekan bandar narkoba. Persis seperti yang aku lamunkan tadi."

"Eit, tunggu dulu. Kalau ada oknum polisi terlibat sebagai backing?" sela Santi.

"Itu bukan urusan kita."

Rapat mendadak diadakan. Keda mengumpulkan kru: reporter, kamerawan, dan dia sendiri akan turun memimpin jalannya peliputan. Lima belas menit kemudian, mobil kru KimpeTV melaju di jalanan Jakarta menuju sebuah kantor polisi. Komandan polisi hangat menyambut kedatangan kru KimpeTV. Rombongan polisi disertai kru KimpeTV, bergerak menuju sasaran: pabrik narkoba di Tangerang.* * *Puas Keda menyaksikan tayangan penggerebekan pabrik narkoba. ali ini kamerawan berhasil mengambil gambar-gambar adegan: polisi mengepung rumah yang dijadikan pabrik narkoba; polisi mendobrak pintu rumah; polisi memburu dan menembak kaki anak buah pemilik pabrik; polisi menodongkan pistol ke arah pemilik pabrik; polisi mengapit A Seng, pemilik pabrik. Darah mengucur dari paha, di-close up. Barang bukti di-close up: mesin peracik narkoba, bertumpuk-tumpuk ganja. Dan, ada tayangan wawancara dengan perwira yang memimpin langsung jalannya penggerebekan.

Wajah sang perwira di layar televisi tampak begitu bangga (sambil membayangkan bahwa Kapolda menyaksikannya). Ada pula wawancara dengan A Seng. Kalau yang ini, Keda sendiri yang menyuruh A Seng menangis, agar visual tampak lebih dramatis. Tayangan di kantor polisi: adegan interogasi. Keda menyuruh polisi membentak-bentak A Seng. Bahkan ia pula turut menyiapkan teks berisi pertanyaan untuk diajukan ke tersangka.
Pulang dari kantor KimpeTV, Keda bersiul-siul di mobil. Wajahnya cerah, senyum mengembang di bibirnya. Dalam benaknya sudah terbayang: prestasi melejitkan rating Berita Kriminal Aktual. Pendapatan dari iklan untuk acara itu pun mengalir deras. Tentu itu credit point tersendiri baginya. Dan, yang lebih penting dari segalanya, ada sesuatu yang terpuaskan, seperti mengalami katarsis. Selalu saja ia seperti mengalami katarsis setiap kali sukses menayangkan berita kriminal yang sarat adegan action. Melihat gambar korban pemerkosaan yang sedang menangis, ia tersenyum senang. Melihat darah mengucur, hatinya girang. Menyaksikan tersangka merintih karena tertembak, wow, betapa gembira hatinya. Pun ketika menonton adegan terpidana pemerkosaan digebuki sesama napi. Apalagi kalau itu hasil arahannya.

Pernah suatu ketika, ia turun langsung untuk meliput terpidana pemerkosaan. Ia meminta polisi agar menyuruh napi-napi yang lain menyambut si pemerkosa dengan pukulan. Bahkan seorang napi pembunuh, dengan bersemangat, mengocok kemaluan si pemerkosa dengan Reumason. Itu pun atas ide Keda, agar tayangan lebih seru, sehingga rating akan meroket dan pendapatan dari iklan akan membanjir. Penderitaan orang lain adalah kepuasan dirinya.

* * *

Malam sudah larut, walau sudah mengantuk, Keda belum juga tidur. Jam dinding di kamarnya sudah menunjuk ke angka dua. Istrinya sudah lama nyenyak dalam buaian malam. Keda tengah memikirkan berita apa yang bisa ditayangkan esok hari. Belum ada berita menarik. "Seandainya ada perampokan yang bisa diliput langsung," gumam Keda berandai-andai.

"Ada dar der dor. Tuan rumah ditodong pistol. Dipaksa menyerahkan uangnya. Lalu polisi datang bersama kru televisi. Ada darah. Ada tangis korban. Diliput langsung. Ini pasti menarik."

Keda menguap, lalu ia pun menjatuhkan dirinya dalam pelukan tidur. Lima belas menit kemudian, antara sadar dan tidak, belum lelap tidurnya, ia mendengar deru mobil di depan rumah. Insting sebagai wartawan kriminal segera bekerja. Keda bangkit. Terdengar suara pintu diketok keras-keras. Spontan ia meraih handphone, menghubungi kantornya agar segera mengirim reporter dan kamerawan ke rumahnya.

"Ada action-action-nya nggak?" tanya Rico, reporter piket malam itu.

"Udah, pokoknya datang. Jangan lupa hubungi polisi. Cepat."
Ribut-ribut di teras makin terdengar jelas. Ketokan pada pintu makin keras. Istrinya dibangunkan, sementara kedua anaknya tidur di kamarnya masing-masing. Keda panik, pintu didobrak. Terdengar jeritan perempuan. Jeritan pembantunya. Keda nekat keluar kamar dengan membawa potongan pipa besi.

Mengendap-endap ia menuju ruang tengah. Panik. Tiga orang menyerbu ke dalam ruang tamu, mengangkuti barang-barang elektronik. Istrinya berteriak-teriak. Keda tak bisa berbuat apa-apa ketika seorang perampok menodongkan pistol ke arahnya. Pipa besi dijatuhkan.

"Kalau mau selamat, tunjukkan di mana kamu simpan uangmu?" ancam seorang perampok.

"Di bank," gemetar jawab Keda.

"Mana kartu ATM-nya," pinta seorang perampok.

Di bawah todongan pistol, Keda mengambil dompet di dalam almari. Betapa kagetnya hati Keda, istrinya dalam todongan golok perampok. Mulutnya disumpal dan kedua tangannya diikat. Dengan gugup Keda menyerahkan dua buah kartu ATM.

"Nomor PIN?" paksa si perampok.

"Tujuh empat lima tiga," jawab Keda.

"Ayoh, ikut ke ATM."

Sementara perampok yang lain mengangkuti perabot berharga, Keda dipaksa masuk ke mobil sedan miliknya, yang sudah dikeluarkan oleh kawanan perampok dalam garasi.
Tiba-tiba, sirine meraung-raung. Dor dor dor. Sebentar terjadi tembak-menembak antara polisi dan perampok. Perampok yang menodong Keda jatuh tersungkur terkena tembakan polisi. Keda sempat melihat Rudi beraksi dengan kameranya, mengambil gambar-gambar dramatis penuh action, termasuk ketika perampok itu tersungkur. Karena merasa terdesak dan perlawanan tak seimbang, tiga perampok kabur melarikan diri. Dua orang tertangkap dalam keadaan luka tembak.

"Pak Keda, bisa diceritakan bagaimana kejadiannya?" tanya Rico, reporter KimpeTV.

Di depan kamera, Keda gugup menjawab karena masih trauma.

"Tolong Pak Keda, ekspresi wajahnya dibuat panik dan kata-katanya gemetar," ujar Rico memberikan arahan. "Ya, agar dapat gambar yang dramatis."
Sementara itu, istrinya menangis tersedu-sedu dan syok.

"Rudi, kamera diarahkan ke Nyonya Keda," kata Rico, dengan serius. "Nah, ini sangat dramatis. Penonton pasti suka. Ratingnya bakal tinggi. Iklan pasti banyak."

* * *
Jakarta, 16 Agustus 2002

Jumat, April 24, 2009

Menggugat Kekuasaan Anggaran DPR

Roby Arya Brata - PENGAMAT HUKUM (Koran Tempo, 21 April 2009)

Skandal-skandal suap yang melibatkan oknum anggota Dewan Perwakilan Rakyat tidak bisa dilepaskan dari potensi koruptif kekuasaan DPR yang besar dalam menentukan anggaran pendapatan dan belanja negara. Kasus dugaan suap oleh AHD, anggota Komisi V DPR, yang diduga terkait dengan proses penyusunan anggaran stimulus proyek pengembangan fasilitas laut dan udara di kawasan timur Indonesia, menyadarkan kita akan rawannya kekuasaan tersebut disalahgunakan. Kekuasaan itu berpotensi membuka peluang lobi-lobi politik koruptif antara oknum anggota DPR dan kelompok-kelompok kepentingan dan bisnis. Jika dibiarkan, keadaan ini bisa mendistorsi proses perumusan kebijakan publik yang berbahaya bagi proses demokrasi.

Tidak seperti dalam Konstitusi Amerika Serikat yang secara tegas menganut ajaran separation of power dan memberikan kekuasaan membentuk undang-undang (legislative powers) kepada Kongres, Undang-Undang Dasar 1945 pada dasarnya menganut prinsip distribution of power di antara cabang kekuasaan eksekutif dan legislatif. Pasal 1 ayat 1 Konstitusi AS menyatakan, "All legislative powers herein granted shall be vested in a Congress of the United States, which shall consist of a Senate and House of Representative". Dalam UUD 1945, presiden tidak hanya memegang kekuasaan (eksekutif) pemerintahan (pasal 4 ayat 1), namun ia juga berhak mengajukan rancangan undang-undang kepada DPR (pasal 5 ayat 1).

Kekuasaan legislatif presiden diperkuat dengan ketentuan Pasal 20 ayat 2 UUD 1945 yang menyatakan bahwa setiap RUU dibahas oleh DPR dan presiden untuk mendapat persetujuan bersama. Artinya, jika presiden atau DPR tidak setuju terhadap RUU tersebut, RUU demikian tidak boleh diajukan lagi dalam persidangan DPR masa itu (pasal 20 ayat 3). Namun, semangat perancang Perubahan UUD 1945 rupanya hendak mengembalikan atau memperkuat kekuasaan legislatif DPR sebagaimana dinyatakan dalam pasal 20 ayat 1, "Dewan Perwakilan Rakyat memegang kekuasaan membentuk undang-undang". Selain itu, jika dalam waktu 30 hari presiden tidak mengesahkan RUU yang telah disetujui bersama, RUU tersebut sah menjadi undang-undang (pasal 20 ayat 5). Dengan kata lain, kekuasaan legislatif presiden lemah. Hal ini berbeda dengan kekuasaan presiden AS untuk memveto RUU dari Kongres dan mensyaratkan dua pertiga suara Kongres agar RUU yang diveto tersebut sah menjadi undang-undang.

Secara perbandingan, dasar konstitusional penyusunan bujet di AS adalah Pasal 1 ayat 9 klausula 7 Konstitusi AS yang menyatakan, "No Money shall be drawn from the Treasury, but in Consequence of Appropriations made by Law; and a regular Statement and Account of the Receipts and Expenditures of all public Money shall be published from time to time". Selanjutnya proses penyusunan bujet diatur dalam Budget and Accounting Act 1921. Meskipun presiden AS tidak memiliki kekuasaan legislatif, dalam hal bujet, ia berwenang mengajukan budget request, yang penyusunan proposalnya dilakukan oleh The Office of Management and Budget, kepada Kongres yang berisi rencana anggaran pendapatan dan belanja negara.

Atas dasar proposal inilah, melalui proses perancangan budget resolution, Komisi Anggaran DPR dan Senat AS kemudian menyetujui atau menolak pengalokasian anggaran secara individual pada program-program pemerintah federal. Selanjutnya presiden AS dapat menyetujui atau memveto Budget Bill dari Kongres tersebut.

Dalam kenyataannya, sebagaimana banyak para pakar politik-ekonomi berpendapat, kekuasaan yang besar dari Kongres untuk menentukan anggaran tersebut telah membuka peluang lobi-lobi politik yang cenderung mendistorsi proses demokrasi dan pembuatan kebijakan. Mancur Olson dalam bukunya yang fenomenal, The Rise and Decline of Nations: Economic Growth, Stagflation, and Social Rigidities (1982), bahkan berpendapat bahwa pengaruh kelompok-kelompok kepentingan, seperti asosiasi serikat pekerja dan petani kapas, melalui lobi-lobi politiknya yang cenderung proteksionis dan antiteknologi merupakan salah satu faktor penyebab timbulnya stagflasi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Berpotensi koruptif UUD 1945 memberikan kekuasaan legislatif kepada presiden dan DPR untuk menyusun RUU APBN. Pasal 23 ayat 1 menyatakan bahwa APBN ditetapkan setiap tahun dengan undang-undang, sedangkan pasal 23 ayat 2 memberikan kewenangan kepada presiden untuk mengajukan RUU APBN untuk dibahas bersama DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD.

Lalu sejauh manakah kewenangan DPR dalam menentukan APBN? Kekuasaan DPR dalam menentukan APBN kuat, yaitu dapat menolak RUU APBN yang diajukan presiden (pasal 23 ayat 3). Selain itu, dalam Pasal 20-A ayat 1 UUD 1945 dan Pasal 25 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR, DPD, dan DPRD disebutkan bahwa DPR memiliki fungsi legislasi, fungsi anggaran, dan fungsi pengawasan. Dalam penjelasan Pasal 25 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2003 dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan fungsi anggaran adalah fungsi menyusun dan menetapkan APBN bersama presiden dengan memperhatikan pertimbangan DPD.

Lebih jauh lagi, berdasarkan Pasal 15 ayat 3 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, DPR dapat mengajukan usul yang mengakibatkan perubahan jumlah penerimaan dan pengeluaran dalam RUU APBN. Dalam penjelasannya disebutkan bahwa usul perubahan itu dapat dilakukan sepanjang tidak mengakibatkan defisit anggaran. Selanjutnya Pasal 15 ayat 5 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 memberikan kewenangan yang lebih kuat lagi kepada DPR dengan menentukan bahwa, "APBN yang disetujui oleh DPR terinci sampai dengan unit organisasi, fungsi, program, kegiatan, dan jenis belanja".

Karena itu, berdasarkan analisis di atas, kita dapat mengatakan bahwa dalam hal APBN, DPR tidak hanya memegang kekuasaan legislatif, namun juga melaksanakan kekuasaan eksekutif, yaitu dengan terlalu jauh ikut campur dalam menentukan unit organisasi, fungsi, program, kegiatan, dan jenis belanja--suatu fungsi yang seharusnya menjadi kekuasaan penuh presiden sebagai kepala eksekutif penyelenggara kekuasaan pemerintahan. Hal ini tentunya akan menyulitkan pelaksanaan fungsi manajemen oleh presiden--di mana perumusan budgeting atau APBN yang buruk, sebagai akibat intervensi DPR yang terlalu jauh dan mungkin koruptif, tentu akan berpengaruh buruk pula terhadap pelaksanaan fungsi manajemen lainnya, seperti perencanaan (planning) dan pengendalian (controlling) program pemerintah. Selain itu, "ketergantungan eksekutif sebagai perencana dan pelaksana anggaran (kepada) legislatif sebagai pemegang kendali bujet menjadi sangat tinggi sehingga mengurangi fleksibilitas eksekutif dalam kebijakan fiskal" (Abimanyu 2005). Akibatnya, efektivitas perumusan dan implementasi kebijakan dan program pemerintah dapat terganggu.

Keadaan ini berpotensi koruptif jika kekuasaan DPR yang terlalu jauh dalam penyusunan APBN tersebut membuka peluang lobi-lobi dan patronase politik korup bagi kelompok-kelompok kepentingan dan bisnis. Hal ini tentu, seperti yang dikhawatirkan Mancur Olson, dapat mendistorsi proses demokrasi, menyebabkan stagflasi, dan pada tingkatan tertentu bisa menghambat pertumbuhan ekonomi.

Karena itu, pemerintah dapat menggunakan argumentasi konstitusional untuk menolak intervensi DPR yang terlalu jauh, apalagi yang koruptif, dalam proses penyusunan APBN. Pemerintah dapat mengemukakan bahwa fungsi budgeting (penyusunan APBN) merupakan fungsi yang melekat pada kekuasaan presiden sebagai kepala eksekutif penyelenggaraan pemerintahan sebagaimana ditentukan dalam Pasal 4 ayat 1 UUD 1945. Selain itu, karena hanya bersifat usulan, pemerintah dapat menolak kewenangan DPR, berdasarkan Pasal 15 ayat 3 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, untuk mengajukan usul yang mengakibatkan perubahan jumlah penerimaan dan pengeluaran dalam RUU APBN. Atau dengan argumen yang sama, karena berpotensi koruptif dan inkonstitusional, lembaga swadaya masyarakat antikorupsi dapat memohonkan pengujian konstitusional kepada Mahkamah Konstitusi terhadap pasal 15 ayat 3 tersebut. Argumen konstitusional lainnya adalah pengertian fungsi anggaran DPR sebagaimana ditentukan dalam Pasal 20-A ayat 1 UUD 1945 dan dijelaskan oleh penjelasan Pasal 25 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2003, tidak termasuk di dalamnya hak DPR untuk menentukan APBN yang harus dipenuhi oleh pemerintah.

Kamis, April 16, 2009

Cerita dari Seorang Birokrat Peneliti Nuklir

Suasana kantor saya paska Pileg ini aneh, auranya membuat malas. Apa karena jagoan saya kalah, atau sudah terbayang dalam 5 tahun ke depan saya akan tetap berbengong ria di kantor. Ngerjain sesuatu yang asal, karena tidak berguna. Satu2nya yang bagus adalah tiap sore saya dan bbrp temen ngobrol politik, lebih seru dari talkshow2 politik di TV One maupun Metro TV.

Saya udah sangat jenuh dengan itu semua, tidak banyak melakukan hal yang positif, lalu ada teman kantor mengajak jalan untuk ngeliat PLTP Kamojang, 40 menit dari Garut. Ajakan yang langsung saya sambut mengingat 4 bulan ini honor tambahan di luar gaji saya rasakan sangat seret. Bagi PNS, keberadaan horor, eh, honor2 ini sangatlah penting dan signifikan untuk kehidupan yang pas sebulan, bukan 2 minggu dalam sebulan. Kalau tidak itu akan menjadi horor beneran....

Udahlah, biarin aja nasib para birorkrat karir itu tetep miskin, kali ini saya akan mengajak teman2 untuk berkenalan dengan sosok birokrat peneliti yang hebat tapi ya harus bersahaja. Ini hasil selama Senin dan Selasa kemarin di Garut dan Kamojang.

Dr. Zainal Abidin, panggil aja Pak Jay biar keren, umurnya kini 55 tahun, adalah salah satu (mungkin satu-satunya) pakar nuklir untuk aplikasi isotop dan radiasi khususnya untuk eksplorasi geologi. Pembawaannya sederhana, bicaranya serius, juga ketika mendengarkan. Dia adalah salah satu kepala pusat di BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional) dan membawahi beberapa puluh peneliti nuklir. Gelar doktornya dia dapat dari New Zealand dalam bidang aplikasi nuklir untuk teknologi listrik tenaga panas bumi. New Zealand adalah negara pertama yang punya PLTP, dan dia sudah mendapat gelar tertinggi akademik dari sana. Jadi gak usah lama2 untuk menilai seberapa hebat si Pak Jay ini.

Selama makan malam dengan Pak Jay ini, secara sabar beliau menceritakan dan menjelaskan nuklir yang dapat digunakan untuk kehidupan yang lebih baik, tidak hanya untuk sekelompok masyarakat, tapi seluruh bangsa Indonesia. Saya bilang background saya ekonom, maka dia mulai memberikan pencerahan yang lebih terstruktur dan lebih dapat dicerna buat mereka yang awam.

Oh iya, kenapa dia pengen cerita banyak sama saya, lha saya ini siapa. "Apalah awak ini?" gitu biasanya si Bujang yg temen Naga Bonar ngomong dan suka ditiruin Pak Adhi, senior saya di kantor yang udah jadi pejabat.

Dasar orang baik dan lurus (sesuai ilmunya yang eksak banget), Pak Jay ini menganggap saya sebagai corong yang potensial untuk memasyarakatkan ide2nya. Mungkin dalam bayangan dia, jika aplikasi nuklir terapan masuk dalam RPJM dan RPJP (ini kayak Repelita dan GBHN jaman Soeharto), wah pasti akan banyak dampak positifnya bagi masyarakat Indonesia. Mendengar seperti itu, reflek saya ngelus2 jenggot, padahal gak pernah jenggotan.

Bbrp yg saya tangkap (mohon maklum atas kelemotan saya), aplikasi radiasi bisa dipakai untuk membantu UKM makanan yang buanyak buanget di seluruh Indonesia dalam hal pengawetan. Dia bilang, makanan bisa awet sampai sekian waktu, satu yang jadi percobaan dia adalah 9 bulan untuk rendang, sebulan untuk arem2, dan beberapa yg saya lupa (gak nyatet boooo). Biayanya murah, cuman membangun teknologinya saya yang sedikit memerlukan investasi. Teknologi radiasi untuk pengawet makanan ini sudah diterapkan di negara2 maju. Disamping makanan, buah juga bisa lho, saya sampai manggut2 saking herannya.

Saya pikir2, wah ini bisa membuat distribusi makanan2 tersebut lebih luas. Karena ada waktu tambahan. Juga tidak banyak produk yang terbuang karena cepat kedaluarsa. Dan ini sangaaaaaaat aman dikonsumsi, dan tidak mengurangi kandungan gizi.

Dia terus bercerita lagi, Bappenas perlu membuat masyarakat terbuka terhadap nuklir. Nuklir bukan hanya bom Hiroshima dan Nagasaki, tapi banyak yang bisa dilakukan untuk mensejahterakan masyarakat. Salah satunya untuk listrik. Dia menekankan, Indonesia punya ahlinya, dan secara bertahap kita akan bisa mewujudkan sebuah PLTN. Wah dalam bayangan saya, ini udah kayak di Jerman dan Perancis nih, dimana listriknya juga dari nuklir....

Itu hanya sedikit potensi yang saya tangkap, yang lain masih banyak lagi...

Lalu, mulai dia ceritakan kehidupan birokrat peneliti. "Berat Mas kita mencegah brain drain". Yah, tawaran mengalir deras untuk kolega dan anak buah Pak Jay ini. "Tapi semenjak ada tunjangan penelitian yang 5 jutaan per bulan, mereka udah mulai happy". Yah, mereka dengan take home pay dibawah 10 juta dengan keahlian nuklir masih bersyukur dengan hal itu....

Saya merenung, kok potensi bangsa ini dibiarkan carut marut tidak termanfaatkan. Ada apa dengan Istana Negara dan Senayan, kok yang begini ini terabaikan. Pak Jay dan kolega2nya adalah individu2 yang siap mensejajarkan Indonesia dengan semua negara maju di dunia.

Mungkin Soekarno benar, bahwa dia tidak ingin mengeksplorasi kekayaan alam Indonesia sebelum ada ahlinya. Ketika kita udah punya ahlinya, mereka tidak ada tempat karena udah banyak 'orang lain' yang mengeksplornya.

Sampai kantor, tiba2 kepala saya pusing ketika di depan meja saya teronggok RPJM dan RPJP....

Selasa, April 07, 2009

Pelukan Mesra Cewek Berkaos PAN


JAKARTA (7/4). Pagi tadi, pas terusan jalan ke kantor habis ngedrop si Wisanggeni anak sulungku di sekolahannya, aku lihat spanduk gede dengan tulisan yang gede-gede pula di daerah Jalan Balai Rakyat Utan Kayu. Bunyi tulisannya gini: PILIHAN BOLEH BEDA. INGAT... KITA BERSAUDARA. Dari logo di kiri dan kanan spanduk, sepertinya tuh spanduk dibuat oleh polisi. Mesejnya jelas: “meski yang Lo contreng di Pemilu 9 April ntar gak sama,beda parpol atau beda caleg, Lo jangan berantem ya”. Orang di balik spanduk itu sedikit banyak jelas khawatir, pemilu jadi pemicu konflik horizontal.

Spanduk itu mengingatkan aku pada Mbak Aris, perempuan hebat yang kami percaya tiap pagi menyulap pakaian-pakai kotor menjadi bersih, harum, dan rapi disetrika di markas keluarga besar Utan Kayu. Pas musim kampanye terbuka dimulai 16 Maret tempo hari, tau-tau dia ngomong ke Embahnya anak-anak.

Mbak Aris: “Bu, mohon ijin mungkin besok dan besokannya lagi selama masa kampanye saya akan datang rada siangan”.
Mertuaku: “Loh, kenapa Mbak?”
Mbak Aris: “Anu Bu, saya mau ikutan kampanye dulu”.
Mertuaku: “Weh, ternyata kamu aktivis parpol to Mbak? Hebat, nggak nyangka selama ini penampilanmu telah menipuku. Jangan-jangan kamu jadi jurkamnya”.
Mbak Aris: (dengan tersipu-sipu) “Ah, Ibu. Bukan aktivis parpol. Saya cuma ditawari tetangga, mau nggak ikut kampanye. Katanya dapat uang makan dan kaos”.
Mertuaku: “Ooo. La terus, ikut kampanye apa? Golkar, PKS, PDS?”
Mbak Aris: “Apa sajalah Bu. Saya mah yang penting ada duitnya. Lumayan, 25 ribu, bisa buat tambahan belanja beras di warung. Kalau dapat kaos juga, buat tambahan koleksi pakaian kami yang sudah pada butut dan njeblug warnanya”.

Aku ngebayangin beratus-ratus bahkan beribu-ribu orang dengan pikiran sederhana seperti itu, yang menjadi penopang hingar-bingar pemilu di negara demokrasi terbesar ketiga di kolong langit ini. Orang-orang yang sering diklaim para elit parpol sebagai massa pendukung setia mereka, yang bisa mereka kadalin dirayu-rayu pas pemilu dan dilupakan ketika kekuasaan telah ada dalam genggaman. Padahal, orang-orang seperti Mbak Aris ini justru orang-orang cerdas pragmatis yang pintar melihat peluang. Nggak ada kesetiaan fanatik pada parpol. Lo ada duit, gue jalan. Lo gak ada duit, ngapain gue ikut Lo?! Just that simple.

Motivasinya betul-betul duit nggak ada lain. Ini rada berbeda dengan jaman kegelapan di bawah Orde Baru nan jaya dulu. Aku ingat, pas masih SMA, ikut kampanye Golkar. Motivasinya bukan karena dapat duit atau kaos, tapi karena Komdes (singkatan dari Komisaris Desa) Golkarnya adalah Pak Marsudi, tetangga sebelah rumahku yang sangat baik dan penolong. Dia ngajakin, dan gak enak banget kalau aku nolak. Belum lagi ada ancaman dari Pak Lurah kalau nggak ikut, bakalan dibikin sulit segala urusan dengan kelurahan. Wah, ngeri. Jadilah kami sekeluarga dan banyak keluarga lain pendukung (yang dipaksa) setia pada Golkar. Nggak bakalan berani deh, ikut kampanye PPP apalagi PDI yang orangnya sangar-sangar dan beringas.

Simpatisan PPP dan PDI juga demikian. Mereka diikat oleh fanatisme terhadap parpol. Yang PPP karena mereka Islam banget, yang PDI karena mereka udah eneg sama Orde Baru. Terjadilah kubu-kubuan dengan batas yang lebih kaku. Kalau sudah kampanye Golkar, ya gak bakalan ikut kampanye PDI besokannya. Kalau dah jadi pendukung PDI, gak bakalan mau ikut kampanye PPP.

Bahkan, di penghujung orde Suharto, entah karena orang-orang PDI dan PPP udah makin empet sama kekuasaan entah karena tentara dan polisi udah makin nggak ditakuti, kampanye adalah masa-masa horor terutama bagi simbol-simbol Golkar dan hal-hal lain yang diasosiasikan dengan pemerintah. Pas kampanye PDI atau PPP, mobil motor plat merah jadi sasaran amuk. Orang pakai baju Korpri disarankan jangan ambil resiko nongol di jalanan kalau nggak mau ditelanjangin. Apalagi orang kurang kerjaan, pas kampanye PDI atau PPP malah bikin blunder pakai kaos Golkar, ditanggung babak belur dihajar massa.

Sekarang, kejadian semacam itu sepertinya sudah nggak ada lagi. Malah, tempo hari aku ketemu sama Bapak-bapak pakai kaos Gerindra naek motor boncengan sama cewek pakai kaos PAN. Mesra banget, wong tuh cewek pakai acara meluk-meluk segala sambil haha hihi dengan sorot mata bahagia.

Cuma, di negara yang rakyatnya makan tiga kali dengan menu standar aja susah, demokrasi memang akan jadi demokrasi semu. Seperti telah kusinggung di atas, duitlah yang pegang peranan. Akal sehat orang-orang kecil itu pastilah nggak jalan kalau sudah dikasih paket sembako dan duit gocap. Apalagi emang udah bakat dari sononya kita-kita orang Indonesia punya karakter nggak enakan. Maksudnya, kasihan ah, sudah ngasih sembako kok nggak kita contreng gambarnya.

Mudah-mudahan Mbak Aris dan wong-wong cilik makin pintar: menerima sembako, duit, dan kaos-kaos itu dengan tangan, tapi ketika mencontreng mereka melakukannya dengan hati dan pikiran yang jernih.

Akhirnya, selamat mencontreng. Sementara itu, biarlah aku habiskan empat hari libur panjang mendatang untuk jadi Golput, pulang nengokin Ibuk dan nyekar Bapak di Semarang.

Senin, April 06, 2009

Semua orang Indonesia suka permen


Paling sebel tuh kalau pas belanja di Indomaret atau Alfa, bayar cash, terus dikasih kembalian dalam bentuk permen. Dan, selama sekian tahun menjadi customer setia kedua toko itu, kalau dikalkulasi mungkin sudah ada nominal duit seratus ribuan aku dipaksa beli permen. Heran, kok aku nggak kapok-kapok juga lo, belanja di sana. Setiap kali dikasih permen, setiap kali pula aku misuh-misuh, tapi paling lama seminggu kemudian aku toh kembali lagi belanja di situ.

Yang bikin makin jengkel adalah tindakan biadab itu seolah jadi kebiasaan yang nggak canggung-canggung lagi dilakukan. Maksudku, si Mbak Kasir sudah sampai pada tahap merasa bahwa “satu buah permen” adalah kata ganti yang sahih buat “duit cepek”. Makanya, mereka nggak perlu bilang: “Pak, mohon maaf, yang duaratus kami ganti dengan dua permen karena kami kehabisan koin duaratusan”. Mereka memberikan permen-permen itu dengan tampang innocent, cuek dan dingin, seolah tidak sedang melecehkan konsumen. Di laci kasir yang nongol otomatis itu, kalau kita longok, permen-permen itu ditata sedemikian indah.

Manajemen yang menjalankan toko itu pastilah orang yang nggak sebegitu begonya nggak bisa memperkirakan berapa kebutuhan koin seratusan atau duaratusan dalam sehari. Tapi kok ya praktek yang beginian tetap saja lestari dari waktu ke waktu, bahkan makin bertambah parah.

Sering aku bertanya-tanya, kalau emang gak gablek nyediain duit seratusan buat kembalian, kenapa harga-harga di toko itu enggak dibikin saja kelipatan gopekan atau ribuan saja? Atau, kalau mau tetap dalam kelipatan ratusan, dan nggak punya kembalian cepekan, kenapa pihak toko nggak mau berbesar hati membuat pembulatan, tentu yang menguntungkan konsumen. Misalnya, jika total belanja 67.700 perak, si konsumen cukup bayar 67.000,- saja, dan bukan harus membayar Rp68.000,- terus kembalian yang 300 perak ditukar paksa dengan permen.

Anda pasti setuju denganku kalau tidak semua orang suka permen. Atau kalaupun toh suka, tidak sepantasnya si kasir mendiktekan permen dengan merek yang telah ditentukan. La wong aku sukanya permen Fox kok dikasih permen Menthos. Ogah to ya. Atau, kalaupun yang diberikan paksa itu permen Fox, belum tentu aku ikhlas terima, wong kemaren sore baru beli permen Fox satu karung dan belum tentu habis dalam setahun.

Untuk memberi pelajaran, dari dulu aku punya niat bikin skakmat “kasir permen” yang sayangnya sampai sekarang belum juga kujalankan. Mudah-mudahan suatu saat aku diberikan jalan sama Allah untuk merealisasikannya. Amin. Biar tuh orang-orang pada insyaf dan taubatan nasuha. Skenarionya begini. Sebelum berangkat ke Indomaret, aku beli permen yang banyak. Terus sengaja belanja yang totalnya katakanlah 47.800. Bakalan kubayar dengan duit 50 ribuan. Kalau skenario berjalan lancar, tuh kasir masuk jebakan, dia bakalan ngasih kembalian 2 lembar seribuan dan permen 2 biji. Terus aku mau bilang gini: “ Mbak, permen yang 2 biji ini saya tambah 8 biji, eh 9 deh, tak kasih bonus 1 biji. So, kembalian seribuan buat saya jadi genap 3 ribu. Atau gini aja, saya tambahin permen lagi 20 biji ya Mbak, biar kembalian buat saya pas lima ribu...”.

Rasain Lu!