Senin, Mei 05, 2008

Introduction to Indonesian Oil and Gas Economics

1. "Subsidi BBM" untuk tahun 2008 ini, akan berakhir pada angka --kira-kira-- Rp. 170 Triilliun, sebagian besar akan "diberikan" kepada orang Jawa (dinikmati oleh orang di Jawa, tapi uangnya diberikan kepada Pertamina, maksud saya).

2. Sesungguhnya, angka subsidi BBM itu bisa jauh diturunkan bila seandainya, seandainya, seandainya saja gas alam (natural gas) kita, kita konsumsi di dalam negeri, tidak diekspor terus menerus selama 31 tahun terakhir ini. Banyak cara hitungan matematika sederhana untuk membuktikan pendapat ini.

3. Salah satu "The Incovenient Truth": ternyata Pemerintah kita bukanlah hanya Pemerintah yang begitu "bermurah hati" (so generous) memberikan subsidi BBM kepada rakyatnya, tapi juga kepada pembeli-pembeli gas kita di luar negeri (terutama kepada Anee San/ Saudara Tua Jepun). Jumlah subsidi itu --untuk tahun 2008-- setara dengan yang diberikan kepada penduduk di Tanah Air.

Ikuti bagaimana saya melakukan "quick count" terhadap angka "subsidi" untuk Saudara Tua cs. itu. Saya hanya akan gunakan angka ekspor LNG (liquefied natural gas) kita, yang 31 tahun terakhir ini diekspor ke Jepang (terutama), disusul Korea dan Taiwan.

i. Kontrak ekspor 2008 sebesar 26,1 MTPA (juta ton per tahun). Akan dibeli oleh Jepang cs. pada harga sekitar US$ 8/mmbtu (sesuai formula harga LNG yang dikaitkan dengan harga JCC/ Japan Crude Cocktail). 1 MTPA setara dengan 52 Juta mmbtu, 1 US$ = Rp. 9.100, maka ekspor LNG kita akan dibeli dengan harga sekitar = 26,1 * 52 * 8 * 9.100 * juta = Rp. 98,8 Triillun.

ii. Berapakah uang yang mereka (Jepang+ Korea+ Taiwan) harus keluarkan untuk beli minyak mentah, seandainya, seandainya saja mereka tidak bisa mendapatkan gas (LNG) dari
Indonesia, dan terpaksa harus membakar minyak?

Saya menggunakan faktor "energy equivalent" = 5,8 yang lazim digunakan dalam hitung-hitungan "quick count" ekonomi gas-minyak. 1 mmbtu "equivalent" dengan 5,8 barel minyak tanah dari segi kandungan energinya.

Nah, bila JCC (Japan Crude Cocktail: campuran macem-macem minyak mentah/ crude oil yang diterima di pasar Jepang) taruhlah punya harga rata-rata US$ 110 selama tahun 2008 ini, maka --kalau saja mereka tidak bisa dapatkan LNG dari Indonesia-- mereka akan "bayar" (impor) minyak dengan harga = 26,1 * 52 * (110/5,8) * 9.100 * juta = Rp. 234 Trilliun.

iii. "Subsidi"
yang kita (
Indonesia) berikan kepada Jepang (plus Korea dan Taiwan) untuk impor LNG dari Indonesia, dengan demikian = Rp. (234 - 99) Trilliun = Rp. 135 Trilliun.

4.
Subsidi kepada Jepang cs. sebesar Rp. 135 Trilliun? Itu baru untuk ekspor LNG saja. Gas kita tidak hanya diekspor dalam bentuk LNG, tapi ju ga melalui pipa ke Singapura dan
Malaysia. Jumlahnya lumayan besar juga dah, terutama buat Singapura yang listriknya terang benderang. Hitung-hitungan untuk mereka belum saya tambahkan dalam "quick count" edisi spesial hari Minggu (karena sedang males keluar rumah) ini.

Bila saya tambahkan, saya kira benar "the inconvenient truth" itu: walau kita miskin dan butuh gas, kita masih mau memberikan "subsidi" buat Saudara Tua kita yang sudah kaya raya itu ("Anee-san wa totemo okane-mochi deshou ... "sugih banget", kenapa sih, masih pingin-pingin banget sama gas kita", begitu kiro-kiro jawaban saya wektu ditanya-tanyai dulu sama NHK).

5. Sampai berapa lama Pemerintah kita masih akan memberikan "Subsidi BBM" kepada warganya dan ---bersamaan dengan itu-- memberikan "Subsidi Gas" kepada Saudara Tua, cs?

Entahlah. Cobalah kita bertanya kepada "rumput yang bergoyang ..."

Salam,

HN (Discover the wonder of our natural gas)

0 komentar: