Rabu, Juli 16, 2008

Role Model Birokrat Gaul: M. Natsir

Tempo edisi minggu ini, 14 - 20 Juli 2008 (linknya cuman untuk satu artikel saja, yang lain musti subscribe), menurunkan seri tentang M. Natsir. Seorang mantan pucuk pimpinan di birokrasi legislatif maupun eksekutif. Birokrasi eksekutif sebagai Perdana Menteri Indonesia dan birokrasi legislatif sebagai Ketua Fraksi Masyumi yang merupakan fraksi terbesar kedua di masa itu.

Banyak pelajaran dapat kita petik dari seorang yang asli pejuang ini. Gaul abis deh, maksudnya benar2 mencerminkan abdi masyarakat sejati yang tidak mau menggunakan kekuasaan untuk pribadinya. Memperjuangkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi dan golongan. Terkesan seperti teori, tapi toh dia menerapkannya.

Saya bukannya mau membandingkan dengan eksekutif sekarang seperti menteri2 jaman sekarang, tapi hanya sekedar bernostalgia sambil membayangkan seandainya bertumbuhan Natsir-Natsir muda yang sepertinya makin langka.

Atau dengan legislatif jaman sekarang, wah seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Kalau melihat birokrat legislatif jaman sekarang, saya jadi seperti ingat semboyan suporter Ajax Amsterdam: Sex, Drugs, and Football. Cuman dipelesetin dikit menjadi: harta, tahta, wanita.

Coba deh kasih contoh satu aja profil birokrat eksekutif maupun legislatif yang seperti M. Natsir sekarang ini yang keadaannya jauh lebih baik. Fasilitas mewah. Mewah buanget malah. Kayak lagu melankolis jaman dulu, rumah gedongan, mobil kinclong, gaji ngucur, dll.

Kenapa yang lumayan seperti Sophan Sopian justru terpental atau terpaksa minggir?

0 komentar: