Rabu, Februari 10, 2010

Pak Aprizul.... (RPJMN, Birokrat, dan Askes 2)

Oleh: NAM

Pak Aprizul adalah rekan saya di Bappenas yang semalam (9 Februari sekitar jam 10) menghembuskan nafas terakhir di RS Fatmawati dalam usia pertengahan 40-an. Penyakit yang menyebabkannya meninggal adalah syndrome GBS, mulai menyerang beliau dua minggu lalu. Dimulai dari telapak tangan yang mati rasa, kaki yang melumpuh, terus menjalar keseluruh tubuh……termasuk tenggorokan dan paru-paru tak terkontrol…..

Pak Aprizul adalah sosok yang biasa-biasa di kantor kami. Apa yang saya maksud dengan “biasa-biasa” adalah beliau seorang birokrat yang tekun, cerdas, dengan cara bicara pelan dan tenang, dan apa adanya. Sebagai lulusan ekonomi UI beliau menunjukkan kecermelangan otaknya, pun ketika sekolah master di Claremont tidak menemui kesulitan yang berarti. Menurut penilaian saya pribadi, pengetahuan ekonomi Aprizul sangat tidak kalah dengan para “ekonom selebriti” yang sering muncul di media massa. Bahkan pak Aprizul memiliki kelebihan dalam mengolah statistik…..

Selain itu, yang membuat pak Aprizul “biasa” adalah sebagai birokrat beliau bukan birokrat yang kaya, bukan jenis yang berlimpah secara ekonomi dengan cara-cara yang “stereotype” PNS seperti yang berhubungan dengan ‘keproyekan’, ‘pihak ketiga’, ‘alokasi APBN atau BLN’, dsb…..Beliau hidup dengan istri dan dua anak dengan gaji dan tunjangan PNS, mungkin honor penelitian, atau kalaupun “ngobyek” adalah dengan cara mengajar…..

Birokrat seperti pak Aprizul, yang biasa-biasa tetapi memiliki kemampuan teknis dan kecerdasan yang diatas rata-rata cukup banyak di kantor kami. Yang menyedihkan adalah sekarang ini prosentasenya semakin menurun……

Karena ruang kantor saya dengan pak Aprizul satu lantai, maka kami sering berpapasan ketika mengambil air wudlu. Dalam kesempatan itu saya tahu bahwa beliau sedang sibuk mengerjakan RPJMN 2010-2014 sebuah pekerjaan besar bagi kantor kami.

“Kemarin sabtu-minggu saya masuk kantor pak sampai jam 2 pagi…” kata pak Aprizul…
“O…o…begitu pak? Terus RPJMnya udah selesai?” dengan hati yang gak enak saya menimpali. Bukan apa-apa, karena saya gak ikut nglembur sabtu-minggu. Di tempat kami urusan “fisik” RPJM ditangani dengan sangat baik oleh adik-adik junior kami…..
“Yah….sebenarnya sudah lama selesai. Yang berubah-ubah itu cuman format2 yang sebetulnya gak diubahpun tidak apa2”….pak Aprizul menjelaskan sambil membuka keran air dan berwudlu…..

Itulah penggalan kenangan saya bersama pak Aprizul. Saya sebut penggalan karena kami memang hanya saling bertegur sapa dan ngobrol-ngobrol kecil dalam pertemuan kami….Namun penggalan itu begitu membekas dalam memori saya…..mungkin karena beliau orang baik yang diberi kemampuan mencerahkan sekitarnya…..

Kepergian pak Aprizul bagi kami menyisakan beberapa hal penting terkait hak dasar pegawai negeri seperti remunerasi dan asuransi kesehatan, serta yang diluar itu adalah leadership dalam PNS. Asuransi kesehatan menjadi hal yang harus diupayakan mengingat Askes yang dipakai pak Aprizul sangat tidak memadai dengan kebutuhan perawatan yang beliau perlukan. Leadership dalam PNS menjadi pertanyaan menggelitik karena kerja keras seperti yang pak Aprizul lakukan seringkali adalah langkah yang tidak efektif, kerja yang tidak efisien, dan mungkin berarti pemborosan…Namun hal terakhir ini bukanlah spesifik masalah di kantor kami melainkan sudah menjadi masalah nasional……yang harus difikirkan semua pihak termasuk DPR seperti Pak Soetan Batugana, Bang Ruhut, Mas Roy Soeryo, Pak “Polo” PKB, dan lain-lain…..

Masalah-masalah itu tak lagi perlu dipikirkan seorang pak Aprizul, yang Insya Allah diberikan ketenangan di haribaanNya…….selamat jalan pak Aprizul, semoga damai dan bahagia disana……

0 comments: