Lupakan tentang birokrasi Indonesia sebagai yang terburuk nomor 2 di Asia. Lupakan ide ngawur dana aspirasi 15 milyar per anggota DPR. Lupakan PSSI yang kacau balau yang menurut saya sudah sama dengan jaman jahiliyah. Lupakan semua. Lalu juga tinggalkan mengikuti sepak terjang si ‘pejantan tangguh’ Ariel Peterporn…. (apa bisa? kalau keluar lagi yang lebih baru?). Tinggalkan dan lupakan! Tiba saatnya menyambut Piala Dunia yang pertama di Benua Afrika, tepatnya Afrika Selatan 2010.
Untuk tahun 2010 ini saya ngerasa bakal jadi milik 4 negara yang saya sebut di judul tulisan ini. Bukan apa-apa, Belanda dan Spanyol sangat meyakinkan di kualifikasi, menang terus dengan meyakinkan. Inggris punya barisan pemain tangguh dan TERMAHAL di dunia yang dilatih Italiano bertangan (sekaligus bermuka) dingin, Don Capello. Lalu Argentina yang dipimpin legenda ’ajaib’ Maradona dengan calon ’ajaib’ berikutnya, Lionel Andres Messi, yang dibelakangnya berderet ptotagonista2 yang bercokol di berbagai klub besar di Eropa.
Saya belum mendalami bagaimana skenario pembagian grup dan perjalanan berikutnya di babak knock out dari 4 ’tim saya’ itu, apakah mungkin mereka semua ke semifinal atau tidak, nanti kita telaah lagi. Mereka semua unggulan di masing2 grup, Belanda di grup E, Spanyol di grup H, Inggris di grup C, dan Argentina di grup B.
Lalu, kenapa saya menjagokan mereka?
Kita mulai dengan Belanda. Tidak manis PD tanpa tim yang pasti menyerang ini. Tim yang selalu bermain dengan moooi (indah) ini adalah tim unggulan tradisional saya, kampung kedua saya (ngaku2 nih...) tapi kali ini didukung oleh statistik yang mengagumkan. Belanda menyapu bersih 8 pertandingan melawan Norwegia, Skotlandia, Islandia, dan Macedonia dengan KEMENANGAN. Ujicoba terakhir juga mengerikan, Meksiko disikat 2-1, lalu Ghana (4-0), dan Hungaria (6-1).
Di PD nanti, pelatih Bert van Marwick tidak bakal pusing dengan strategi karena stok pemain berkualitas yang melimpah. Terutama untuk sektor menyerang memang terdiri atas punggawa2 yang ‘menyeramkan’, walaupun di pertahanan dari skuad yang ada tidak begitu ‘menyilaukan’. Tradisional total football sudah pasti jadi pakem dengan strategi dasar ball possession. Semua pelatih dari negeri kincir angin ini pasti memahami bagaimana memainkannya. Jangankan Belanda, Pim Verbeek aja fasih menjadikan Australia berokestra total football. Kalau jaman 1974 dulu orkestra dimainkan oleh Johan Cruijf untuk menyerang, peran yang lebih di tengah oleh Johan Neeskens, maka di pertahanan oleh Ruud Krol. Lalu jaman 1988 lewat Marco van Basten dan Ruud Gullit di depan, Frank Rijkard di tengah, dan Ronald Koman di belakang.
Untuk tahun 2010 ini, Marwick punya pilihan pakem 4-2-3-1 atau 4-3-3. Sangat jarang Belanda memakai 4-4-2, kecuali jaman Guus Hidink di PD 1998. Sektor ujung tombak akan menjadi milik Robin van Persie. Lalu Sneijder, Van Der Vart, dan Robben menjadi gelandang menyerang yang dilengkapi oleh Van Bommel dan Enggelaar (atau Nigel De Jong) sebagai gelandang bertahan untuk formasi 4-2-3-1. Kalau 4-3-3 maka tridente Van Persie, Kuyt, dan Robben sebagai penyerang dan Van Bommel, Sneijder, dan Van Der Vart sebagai gelandang. Bersiap dari bench adalah gladiator yang tak kalah mengkilap dalam diri Huntelaar dan Babel. Sedangkan Afellay dan Elija siap melapis sektor gelandang. Di pertahanan akan berdiri the four musketeers Marthijsen dan Heitinga di center back (dilapis Boulahrouz dan pemain 21 tahun asal Ajax Van Der Wiel), lalu Van Bronchorst di kanan dan Oijer/Boulahrouz. Lalu di benteng terakhir ada Stekelenburg yang lama menunggu estafet Van Der Sar untuk menjadi kiper Belanda.
Sekilas Belanda seperti kekurangan stok pemain bertahan yang hebat seperti Krol di 1970-an, Ronald Koeman di tahun 1980-an, sampai Jaap Stam di 1990-an. Tapi filosofi pertahanan terbaik adalah menyerang tampaknya akan terus tertanam di benak para pemain Oranye ini. Walaupun ’hobi’ melupakan hasil akhir (kemenangan), main indah yang disertai kemenangan tampaknya memungkinkan di tahun 2010 ini.
Satu lagi yang merisaukan saya, yaitu persaingan antar alumni The Groot Drie (3 besar) Amsterdam, Rotterdam, dan Eindhoven tidak muncul kali ini. Di Piala Eropa 2000 dan PD 2002 adalah Nistelrooy (Eindhoven) dan Makaay (Rotterdam) yang terpinggirkan entrenador termakan oleh Kluyvert yang berhasil menghasut para Amsterdamers di skuad. Saya harap alumni Amsterdam (Sneijder, Van Der Vart, Stekelenburg, Marthijsen, Huntelaar, dan yang lain), lalu Rotterdammers (Van Bronchorst, Persie, Kuyt) dan Einhoveners (Van Bommel, Robben, Afellay, Oijer) kompak dengan kekuatan baru Liga Belanda yang diwakili Engelaar (alumni FC Twente yang sekarang di Hamburg, juara Liga Belanda 2010) dan Schaars (AZ Alkmaar, juara Liga Belanda 2009).
Belanda akan berjaya dengan menempatkan Van Persie, Sneijder, dan Stekelenburg sebagai protagonista utama Belanda di PD 2010 dan salah satunya (saya yakin Van Persie atau Sneijder) akan bersaing dengan Messi, Rooney, dan Ronaldo untuk mendapatkan bola emas.
(bersambung)
0 comments:
Poskan Komentar