Jumat, Juni 11, 2010

Menyambut Bulan Suci Umat Bola: Piala Dunia 2010 Menjadi Milik Belanda, Spanyol, Inggris, dan Argentina (2)

Lalu Spanyol. Si juara Eropa 2008 dan 1964 ini benar2 kekuatan yang menakutkan mulai dari kiper sampai depan. Punggawa2 El Barca yang merajai Eropa di tahun 2008/09 lalu sangat mewarnai komposisi. Pelatih Vicente Del Bosque membawa kiper Valdes, bek Pique dan Puyol, gelandang Xavi, Iniesta, dan Busquet, serta Pedro Rodigues di depan ke Afsel. Jangan lupa juga sama Villa yang musim depan akan merumput di Barca.

Di kualifikasi, sama dengan Belanda, sapu bersih dengan 10 kemenangan dengan menyisihkan Bosnia, Turki, Belgia, Estonia, dan Armenia. Ujicoba terakhir melumat Polandia dengan 6 gol tanpa balas.

Untuk pola, Spanyol identik dengan pola 4-4-2. Saat menjuarai Eropa pola ini dikombinasikan dengan ball possesion ala total football yang diterapkan dengan sangat efisien. Kiper masih menjadi milik Saint Iker, bek tengah akan ada Pique dengan Machena/Puyol/Capdevilla, wing back kiri milik Arbeloa dan di kanan milik Ramos atau Puyol. Di tengah akan dipimpin sang conductor orkestra Xavi untuk memainkan effective ball possession ala Spanyol, ditemani Xabi/Busquet sebagai gelandang bertahan, lalu Silva dan Iniesta dalam menyerang. Fabregas menjadi alternative utama untuk menyesuaikan pola yang diinginkan Del Bosque. Di depan adalah pakem juara 2008 untuk Villa dan Torres. Sayangnya, jika salah satu cedera maka kedalaman cadangan hanya ada di Pedro yang baru bersinar bersama Barca di musim ini, sedangkan Llorente dan Navas masih perlu membuktikan diri.

Keseluruhan saya cuman mengkhawatirkan lini depan Spanyol, tapi kalau ini teratasi maka tak ada keraguan bahwa Spanyol akan melaju kencang di Afsel.

Non teknis, La Furia Roja (Si merah marun) hobi ‘kempes sebelum berkembang’. Juga sering underpressure jika melawan tim-tim besar. Di 2006, 80 persen skuad sekarang yang di penyisihan grup begitu hebat bisa dijinakkan dengan mudah oleh Zidane dan Perancis yang berlepotan di penyisihan.

Karena berkarakter menyerang, Spanyol berpotensi menghadirkan kesenangan bagi para penggemar bola. Spanyol musti mewaspadai pola2 effective football ala Mourinho di Inter yang bakal dipakai Capello dan Inggris-nya, Lippi dengan Italia-nya, serta Domenech dengan Perancis-nya. Capello akan sangat membahayakan Spanyol, juga Belanda.

Jagoan ketiga saya adalah si juara PD 1966 Inggris. Pasukan yang pemainnya punya bayaran per minggu di atas 1 milyar (pake duit nggak ya?) ini memang kosmopolitan. Nama2 mentereng dari Premier Ligue yang sudah mendunia pasti akan menyilaukan. Tengoklah Rooney di depan, lalu Lampard, Gerard, Carrick, Joe Cole, dan Gareth Barry, di belakang ada John Terry (yang ternyata gak ada apa2nya dibanding Ariel Peterpan.... xi xi xi). Sayang Ferdinand apes. Cuman kiper yang tidak dipunyai Inggris. Seandainya Markus Horison itu warga Inggris saya yakin Capello akan memanggilnya.

Saya tidak akan mengulas banyak skuad Capello yang sudah sangat terkenal. Kemungkinan akan berbentuk 4-5-1 dengan gelandang model diamond, dengan menempatkan Rooney sebagai predator utama. Barisan gelandang akan menyisakan pertanyaan bagaimana Capello menyatukan Lampard dan sang kapten Gerard yang selama kualifikasi hampir tidak pernah bermain bersama (bukan alasan taktik, tapi kebugaran). Eriksson gagal menyatukan kedua sosok berbakat tersebut. Di tengah masih banyak pilihan dengan adanya Carrick, Joe Cole, dan Wright-Phillips. Di posisi bek, walaupun tidak ada Ferdinand, Terry masih dapat ditemani Ledley King, atau Jamie Carragher yang dilengkapi Glen Johnson. Nah kiper ini yang bermasalah, toh akhirnya David James juga yang dipasang.

Inggris tidak enak dilihat tapi akan banyak menang.

Jagoan terakhir saya adalah Argentina. Tim ini sangat tidak meyakinkan di kualifikasi, apalagi semenjak dilatih Maradona jadi makin tidak meyakinkan. Pola yang tidak jelas ditambah dengan improvisasi yang tidak efisien membuat Albiceleste terseok-seok di kualifikasi zona Amerika Latin.

Lho lalu apa alasannya jagoin Messi dkk? Skuad, yah skuad Argentina yang sungguh2 sangat mengkilap dibanding yang lain. Tim Tango punya barisan depan terhebat di dunia yang berjaya di liga-liga Eropa mulai dari Lionel Messi, Higuain, dan Aguiro (Spanyol), Milito (Italia), Tevez (Inggris), sehingga meninggalkan Lisandro Lopez, sang top skor Liga Perancis. Di tengah akan ada Mascherano, Veron, Di Maria, serta Maxi atau Gutierez dengan meninggalkan duet Inter Milan Cambiasso dan Zanetti. Di bagian center back ada duet Munchen-Inter dalam diri Demichelis dan Samuel yang didampingi Heinze dan Otamendi. Sergio Romero menjadi kiper hebat Argentina satu2nya yang sempat mengantar Alkmaar juara Liga Belanda tahun lalu.

Dalam beberapa kesempatan Maradona ingin Messi ada dalam central permainan. Kalau biasanya di Barca si bocah ajaib menyerang dari sektor kanan, di Argentina Messi akan selalu ada di jantung pertahanan lawan. Posisi ini akan sama dengan posisi Maradona di PD 1986 dan 1990, kalau sekarang seperti fasih dilakoni Sneijder dan Lampard atau Zidane (1996-2006) dan Totti (1999-2006). Orang biasa menyebut ’penyerang lubang’, tapi istilah itu lebih cocok untuk Ariel Peterpan.... Xi xi xi....

Banyak yang pesimis, karena lebih banyak yang menyarankan agar Argentina mengadopsi pola Barca dalam mengoptimalkan Messi. Saya berpendapat lain, Messi berhasil menjalankan peran itu di edisi Olimpiade 2008 dengan mendapatkan emas. Pelatihnya Christian Batista, eh itu mah penyanyi tetangga, maksudnya Sergio Batista, rekan Maradona di skuad Argentina 1986 dan 1990. Sayangnya Batista tidak mau bergabung di tim official yang dipimpin Maradona. Peran Messi akan melapis duet striker Teves dan Higuain/Milito.

Ini seperti mengingatkan Maradona yang melapis Valdano-Burruchaga di 1986, Burruchaga-Cannigia di 1990, dan Cannigia-Batistuta di 1994. Maradona berhasil melakukannya, termasuk di 1994 sebelum si cebol diskors.

Argentina sangat tergantung pada keberhasilan pola ini, jika berhasil maka semua kesebelasan harus bersiap2 diberondong oleh ‘senapan mesin’ Argentina. Sejauh ini cukup berhasil di level ujicoba, baik ketika jaman kualifikasi atau menjelang PD. Ketika bertanding resmi, seperti di kualifikasi dulu memang sangat2 tidak berhasil. Tapi saya percaya ini akan berhasil di PD dengan Messi yang akan menjadi pemain terbaik.

Saya meninggalkan barisan tim2 tradisi juara dunia mulai dari Brasil (5 kali), Italia (4), Jerman (3), Perancis (1), Uruguay (2), serta tim2 yang sedang meningkat seperti Portugal dengan Ronaldo-nya, dan beberapa tim Afrika.

Brasil punya skuad sangat biasa2 saja dengan meninggalkan pahlawan PD 2002 dalam diri Ronaldo dan Ronaldinho. Ronaldinho sebenarnya masih bisa berguna, sayangnya Dunga tidak perlu. Saya sendiri juga masih belum melihat kehebatan Dunga dalam meracik skuad Samba yang praktis mengandalkan Kaka yang di edisi Liga Spanyol terakhir justru lebih banyak sibuk dengan hernia-nya. Duet striker Fabiano dan Robinho adalah deretan penyerang kelas 2 yang masih kalah bersinar di level klub (di Sevilla Kanoute selalu lebih tajam, dan di Manchester City Robinho minder dengan Tevez dan Adebayor).

Sang juara bertahan Italia benar2 tim yang mulai menua. Efective football yang mengandalkan pertahanan yang kuat disertai serangan balik yang maut sudah tidak seefektif 2006. Di Piala Eropa 2008 Belanda mengguduli Italia dengan 4-1. Pertahanan yang mengandalkan kapten renta Cannavaro (37 tahun) benar2 jauh dari harapan.

Perancis belum pernah membuktikan bisa ditinggalkan sang maestro Zidane selama kurun waktu dia bermain (1995-2006). Di edisi PD 1998 dan Piala Eropa 2000 juara. Di edisi 2006, Zidane harus comeback dari pengunduran dirinya untuk meloloskan Perancis ke PD sekaligus mengantarkan sampai ke final. Edisi PD 2002, Zidane cidera dan bermain di penyisihan grup terakhir dengan kondisi seadanya, hasilnya Perancis terdepak. Di Piala Eropa 2008, Perancis terkoyak2 salah satunya oleh bombardir Belanda 3-0 dan pulang dalam keadaan tim terburuk di edisi dimana Spanyol juara.

Jerman suka mengejutkan. Seperti di edisi 2002 yang melaju terus ke final. Portugal harus membuktikan bahwa semifinal di 2006 bukan puncak penampilan generasi Ronaldo. Portugal terengah-engah di kualifikasi dan harus menjalani play-off untuk menuju Afsel 2010.

Tuan rumah Afsel saya yakin tidak berbicara banyak. Saya berharap Drogba fit untuk membawa Pantai Gading membuat kejutan. Asia kali ini tidak akan berbicara banyak. Duo Korsel-Korut, dan Jepang akan meramaikan even aja.

Lalu, jika final diisi oleh Belanda vs Spanyol, maka pertarungan menyerang di puncak akan sangat membahagiakan pecinta bola dunia sekaligus akan melahirkan juara baru Piala Dunia.

Jika ada juara baru di 2010 ini, saya harap itu Belanda.

0 comments: