Senin, Juni 21, 2010

Si Burung Merak bernama Remunerasi

Si Burung Merak bernama Remunerasi: Rencana Langkah Aksi?


1. Bikin Hangat Dulu

“Jangan mengharap burung di udara, kau lepas ‘burung’mu sendiri,” Brother Taufiq Bawazier menasehati saya.

“Apalagi, belum jelas burung itu lebih besar dibanding yang kau pegang-pegang sekarang …”

Saya tak tahu apa itu “burung”, apalagi tahu burung Br. Fiqy (dari Qatar?) benar-benar besar atau tidak. Saya manggut-manggut saja sambil membayangkan seekor burung “mantuk-mantuk” dalam sangkarnya.

Di kesempatan lain, Br. Fiqy bernasehat lagi, ”Jangan kau tanya remunerasi apa yang Bappenas kasih ke kamu, tapi burung apa yang kau sumbang buat Bappenas.” Saya agak ngantuk atau barangkali sedang salah ketik, namun mulai paham kaitan burung dengan remunerasi.

Saya mendebat, “Brother, ini zaman beda. Barangkali hanya ‘Antum’ dan Br. Siman (juntak) saja yang masih kagum sama Presiden Kennedy. Staf Bappenas kini adalah generasi Black-Berry Obama, paling tidak Presiden Clinton. Buat mereka, kerja adalah soal aktualisasi diri, enjoy; bukan soal ‘sok’ berbuat buat negeri …”

Tapi kemudian mengaku, “Brother, bagaimanapun saya menghargai pendapat ‘Antum’, bahkan melihat kesamaan Antum dengan Presiden Clinton. Kalian sama-sama pengagum dan mengganggap penting “yang satu itu: burung

2. Combro

Bulan Maret lalu di lorong bawah saya dihampiri Brother/Sister anggota “Foresga” (Forum Eselon III). Mereka menghadap Menteri soal “aspirasi arus bawah” (burung?). Saya menolak.

Menolak, karena saya merasa tidak “in group” dengan Foresga. Saya merasa diri saya lebih mirip seekor “burung.” Lho?

Menolak diajak Foresga, saya bilang, “Soal remunerasi itu kan jelas. Jangankan DPR, Menteri … Bu Lek, Mbok De, Teteh, Mamang, Uak, Neng Geulis di Kadungora- Garut juga sudah tahu. Sudah diumumkan di koran-koran, TV, radio, koq. Apalagi sih? Ini cuman urusan ‘combro’ saja, kan?”

Ternyata combro yang harusnya tersaji sejak Januari, tak juga datang sampai 3 bulan itu. Empat bulan lewat, 5 bulan berlalu, 6 bulan pergi, Si Combro tak nongol-nongol juga. Nyang masaknye kagak becus, kaleee …

Bayangkan, hidup 6 bulan tanpa combro. Enam bulan tanpa memainkan “burung” … Kecian deh lu.

3. Menggertak Bu Nina

“Aku mendengar suara // Jerit hewan yang terluka // Ada orang memanah rembulan // Ada anak burung terjatuh dari sarangnya // Orang-orang harus dibangunkan // Kesaksian harus diberikan // Agar kehidupan bisa terjaga” (Rendra, Yogya, 1974).

Tak tahan mendengar “jutaan keluh derita” (dari komplek yang punya hampir 300 keluarga), saya menemui Bu Nina. Mohon di-briefing “the most up-dated information” soal remunerasi.

Dengan dialek Solo campur gambang Semarangan yang meledak-merdu Bu Nina bercerita semua itu (I really apprecite and proud of her dengan perjuangan dan posisi yang Beliau ambil. Merci beacoup, Bu).

Tulisan ini tidak bertugas merincikan isi pertemuan.

Di akhir interview, saya “nekad menggertak” Bu Nina, kira-kira begini:

“Bu, tolong sampaikan kepada mereka (Boss-Boss itu):

1. Kabari kami. Kami sudah tak tahan menderita lagi, tapi sampai hari ini kami tak tahu nasib kami mau dibawa kemana pergi. Sampai kapan lagi kami harus hidup bercanda dengan ‘ma-ut’ seperti begini? Kabari kami! Kalau tokh kami tak perlu harus datang lagi saban hari saban pagi wira-wiri ke Taman Suropati sini, itu akan kami ‘jabani’. Itu lebih baik daripada nasib kami digantung dalam ketidakpastian begini. (Maunya apa, kuharus bagaimana … kasih. … Hingga mungkin ku tak sanggup lagi … dan meninggalkan dirimu … wo u wo … -- GANTUNG – Melly Goeslow).

2. Kami akan bantu. Kami kenal, punya akses pribadi koq dengan semua yang punya kuasa soal remunerasi ini. Kami juga “pinter-pinter” lho. Kami bisa bikin draft surat, bisa mengantarkan bawa dokumen, mau nongkrongin surat itu di sana-sini sampai berhari-hari (daripada di kantor kerja rodi nggak pasti kaya’ begini – “ … Dadi kuli bayaranne ora mesti … -- Sony JOSS dalam “Sri Wis Bali”).

Tapi “mbok ya o” kalau memang masalahnya rumit, Boss-Boss itu berdiri di depan kami, dong. “Jangan malah kami ndak dikabari.”

3. Ada batas waktu. How long can we go?” Tidak mungkin kami dalam ketidakpastian begini, tanpa gambaran rescue scenario atau exit strategy. Kalau Boss tidak beri kami gambaran pasti, “Saya akan pimpin pressure group atau gera’an people power di Taman Suropati ini”, tambahan gertak saya lagi.

“Ini bisul hampir meledak. Ini ilalang kering yang tinggal tunggu disambar api”. Mudah dikelola jadi gera’an.

17 Agustus batas akhir penindasan ini? Saya membayangkan, dalam kecanggihan zaman informasi ini, tidak sulit memainkan gera’an model people power, yang “akan saya Pimpin ini.” (Saya lalu men-draft action plan untuk menggera’-kan “permainan” yang –barangkali—akan bikin asyik nanti).

4. Ajaran Sang Burung

“ ……. tidak sulit memainkan gera’an model people power, yang “akan saya Pimpin ini.”

Akan saya pimpin? Padahal, saya kan bukan Pemimpin apa-apa di kantor ini (di awal-awal kan saya sudah bilang, saya ini kanburung).

Dalam ilmu burung ada ajaran begini, “Bila Elang (maunya) terus menghilang, Akulah Elang, bilang Belalang …”

Modern leadership theory teaches us “Lebih baik jadi Belalang yang berani take risk, daripada Elang yang bawaannya kabur mulu.” Bukan begichu?

Sebelum ambil keputusan “sowan” kepada Bu Nina dan menggagas gera’an pressure group itu, beberapa Brother mengkhawatirkan saya, “Hati-hati, nanti kamu ditekan sana-sini. Atas-bawah, kanan-kiri.”

Saya tidak takut. Saya santai saja, “cuek beybeh ajah.” Saya ingat ajaran Sang Burung.

“Kalian tahu kan, ini soal burung. Burung itu kalau ditekan-tekan terus, dia justru akan makin besaaar, maaakin panjaaaang, maaaaakin keRRRas. Malah tambah KUAT dan berrrrrbahaya … (Wis to, manuk opo meneh to iki?).

5. “Ji’tu fil masjidi” (UNDIP)

Di benak bergentayangan skenario gera’an pressure group, saya harus cari pasti dulu ke lingkaran dalam istana soal kemana hajat hidup orang banyak ini akan dibawa (To my surprise, beberapa Brother Foresda, bahkan Forestu juga merasa “lieur” terkena dampak krisis remunerasi ini. Saya kira kemarin, mereka cuman serius mikirin krisis Yunani –atau cuman terus pasang tampang serius agar nampak wibawa?)

(Note: Lieur” teh maksudna “mumet, edan tenan”. Saking mumet-nya sampai keluar air “liyur-liyur” begitu).

Ji’tu fil masjidi” (Saya dari masjid), ini sepenggal kalimat yang saya cuplik dari hard disk tua di kepala, kalau-kalau Brother di lingkaran dalam istana yang saya “samperin” habis Jum’atan kemarin menyapa begini, “Brother, Ahlan wa Sahlan.” “Min aina ji’ta?” (Ente dari mane?).

Brother Thohir di istana depan itu memang termasuk yang diceritakan dalam Negeri 5 Menara. Mereka pinter dan baik hati; lebih fasih berbahasa Arab dan Inggris daripada bahasa resmi negeri sendiri. Banyak yang sekolah di UNDIP (UNiversitas DI Ponorogo).

Ini menurut Br. Thohir:

1. Boss kemarin sudah menemui Pejabat Tinggi negeri ini yang dulu pernah berkantor di sini.

2. Prepres Remunerasi disiapkan berlaku surut mulai Januari.

3. Mudah-mudahan bisa segera Presiden tanda-tangani.

6. What next?

Ya, saya kira ya sabar sedikit dulu lah. Ya, kalau bisa saling bantu dulu kanan-kiri sesama Brother/Sister, mengapa nggak lakukan itu?

Salam, Hanan Nugroho, 19 Juni 2010

0 comments: