Senin, Agustus 23, 2010

Ketika orang Islam hanya boleh sholat di mesjid

Dua minggu terakhir ini si Wisanggeni dapat ulangan di sekolahnya. Dan terdorong keinginan agar anakku itu dapat nilai bagus, tiap hari aku ikut-ikutan sibuk menemani dia belajar setelah selama ini istrikulah yang lebih banyak menjalankan fungsi itu. Sebelumnya, hanya kadang-kadang saja aku nemenin si Wisang belajar atau nggarap PR karena padatnya tugas-tugas kenegaraan yang mesti kuselesaikan (halah, alesan!).

Materi yang diujikan adalah pelajaran selama satu bulan terakhir. Yang harus dipelajari, kalau nggak buku cetak ya Lembar Kerja Siswa (LKS).

Setiap kali membuka buku cetak pelajaran dan LKS si Wisang, setiap kali pula emosiku kok jadi gampang tersulut. Penginnya misuh-misuh (mengumpat-ngumpat). La wis piye, Mas (habis, gimana lagi, Bos), bukannya mencerdaskan, materi yang diajarkan kok rasa-rasanya malah bikin goblok anak didik. Ini penyakit lama yang nggak sembuh-sembuh dan herannya kok yang kayak gini nih sepertinya makin parah.

Cobalah perhatikan contoh soal-soal di LKS Ilmu Pengetahuan Sosial di bawah ini (kukutip persis dari LKS hebat tersebut):

1. Ada nama lengkap ada juga nama ..... (jawaban yang dikehendaki/JyD: panggilan)
2. Orang yang melahirkan kita biasa kita panggil .... (JyD: ibu)
3. Paman adalah panggilan untuk .... (JyD: saudara laki-laki ayah atau ibu)
4. Apa arti keluarga ..... (JyD: orang tua dan anak-anak)

Yang ada di dalam kurung itu adalah jawaban-jawaban yang dikehendaki*) baik oleh kunci jawaban maupun oleh bu guru. Selain jawaban-jawaban itu, salah!

Wis jan, ra mutu blas! Wong LKS kayak gitu kok dipakai lo. Heran Gue.

Soal-soal di atas hanya empat dari ratusan soal di LKS pelajaran IPS dan ribuan soal di LKS di pelajaran-pelajaran lainnya. Jawabannya mesti teksbuk, dan tidak terbuka ruang bagi anak didik untuk kreatif membuat jawaban yang berbeda.

Padahal, apa ya salah jika pertanyaan-pertanyaan di atas dijawab oleh si Wisang dengan jawaban sbb:

1. Ada nama lengkap ada juga nama ..... (jawaban Wisang/JW: samaran)
2. Orang yang melahirkan kita biasa kita panggil .... (JW: bunda/ mama/ umi/ momy/ mother/ mimi/ emak/ simbok/ nyak/ nyokap)
3. Paman adalah panggilan untuk .... (JW: Om/ Pak Lik)
4. Apa arti keluarga ..... (JW: tempat kita bisa mencurahkan kasih sayang)

Entah si Wisanggeni yang terlalu pinter, entah pembuat pertanyaannya yang dodol, pas pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) tempo hari, ada soal gini:

Umat Islam bersembahyang di .....

Titik-titik itu dijawab si Wisang, sehingga kalimat lengkapnya berbunyi: “Umat Islam bersembahyang di LAPANGAN”. Itu karena dia ingat pas Idul Fitri tahun lalu dia kuajak sholat Ied di lapangan sepak bola di Semarang. Untung gurunya cukup wise dan tidak menyalahkan jawaban itu, meski aku ngebayangin dia pasti geleng-geleng kepala dan nyengir liat jawaban kreatif si Wisang. Cuma, aku khawatir jangan-jangan ada lebih banyak guru yang buru-buru menganggap salah jawaban si murid hanya gara-gara jawaban itu tidak sama dengan yang ada di kunci jawaban. Padahal yang namanya sholat tuh bisa dilakukan di mana saja, bahkan di gereja seperti dilakukan seorang kenalanku yang kebetulan bekerja sebagai tukang bersih-bersih di sana.

Gimana nih, Pak Mendiknas? Kapan negara kita ini maju kalau tunas-tunas bangsa ini dicetak hanya menjadi robot penghafal.

*) Jawaban yang dikehendaki aku karang sendiri, tapi mudah-mudahan seperti itulah adanya

0 comments: