Selasa, September 21, 2010

Terima kasih telah jahat kepadaku

Meski lebih sering gagal daripada berhasil, aku adalah orang yang mencoba untuk selalu berbaik sangka sama Allah, dalam arti aku selalu menganggap apapun yang terjadi padaku sekarang ini, yang kumiliki sekarang ini, adalah hal terbaik dari-Nya yang mesti kusyukuri.


Dan, setiap aku kumat, berbaik sangka seperti ini membawaku berterima kasih kepada siapa saja yang sengaja atau tidak, menyebabkan aku berada pada keadaanku sekarang. Ya. Siapa saja, termasuk orang yang pernah menjahati saya. Kalau dulu nggak ada orang sok tahu dan membuatku kesasar pas nyari kos-kosan di daerah Utan Kayu, mungkin aku nggak akan pernah ketemu dengan si Dani, gadis bohay montok nan cantik yang di kemudian hari kunikahi dan kini memberikan dua jagoan ganteng untukku. Andai saja nggak ada abang sopir metromini yang hobi bener ngetem bikin macet jalan, mungkin aku nggak akan menjadi manusia penyabar seperti sekarang.


Dalam konteks yang berbeda dan rada-rada nggak nyambung dengan tulisan ini, para jagoan--baik yang nyata maupun fiksi--sesungguhnya perlu berterima kasih kepada para penjahat karena berkat jasa mereka juga, para jagoan itu bisa menjadi pahlawan. Pandawa bisa hebat karena dikuyo-kuyo sama Kurawa dan Sangkuni. Hanoman bisa jadi pahlawan karena ada Rahwana. Clark Kent bisa jadi hero karena Lex Luthor. Coba kalau di Kota Metropolis orangnya baik semua, Superman nggak akan eksis dan Lois Lane juga nggak bakalan naksir dia.


Orang kaya perlu berterima kasih kepada orang miskin. Bayangkan Anda punya duit dua triliun, tapi semua orang lain di muka bumi ini masing-masing punya uang minimal 150 triliun. Apakah Anda dapat disebut kaya? Tidak. Untuk bisa disebut kaya, haruslah ada orang lain yang punya harta lebih sedikit daripada Anda. Untuk bisa disebut dermawan, Anda memerlukan orang lain yang memerlukan sedekah dari Anda.


Maka itu, aku nggak sedang bercanda jika aku bilang aku berhutang budi pada Abang-abang sopir metromini yang jalannya pelaaaan.... nggak mau minggir dan mendadak ugal-ugalan jika di ujung jalan terlihat metromini lain menyusul.


Terima kasih pula kepada Mas-mas yang nekat merokok di ruangan ber-AC atau dalam angkutan umum.


Terima kasih kepada PDAM Harapan Indah yang memproduksi air keruh, keluarnya Senin-Kemis, sembari tetap percaya diri menaikkan tarif.


Terima kasih kepada pengendara yang main klakson di perempatan padahal lampu masih menyala merah.


Terima kasih, karena berkat perbuatan Anda, aku merasa kini menjadi pribadi yang lebih sabar (terima kasih Pak Mario Teguh yang super, atas kata “pribadi”-nya). Karena berkat tabiat dan perilaku barbar Anda, saya jadi lebih sering berzikir dan istighfar.


Selamat Idul Fitri 1431 H, Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian. Mohon maaf lahir dan batin. Maaf juga untuk tulisan yang ndak jelas apa maksudnya ini.

0 comments: