Salam,
Indonesia berduka.
Mbah Maridjan pulang meninggalkan hiruk pikuk dunia ini dua hari yang lalu (27/10) dalam posisi menyembah Tuhan dan menjalankan tugas profesinya sebagai Juru Kunci Gunung Merapi. Yah, di mata sebagian besar orang Indonesia mungkin profesi itu tidak pernah 'dianggap'. Tetapi Mbah Maridjan menunjukkan kepada bangsa Indonesia bahwa profesi apapun harus disyukuri dan dilaksanakan penuh tanggung jawab. Mendiang Sri Sultan Hamengkubuwono IX memberikan tanggung jawab menjaga Merapi kepada Mbah Maridjan, dan beliau melaksanakan sepenuh hati dan bersungguh-sungguh. Bagi beliau, menjalankan tugas juru kunci dengan ikhlas adalah jihad.
Bagi kita itu adalah inspirasi yang sangat fenomenal. Sesepele apapun profesinya, kesungguhan hati, keikhlasan, dan tanggung jawab harus dipegang penuh.
Inspirasi kedua, orang yang memberikan tanggung jawab bukanlah orang sembarangan. Ayahanda Sri Sultan HB X adalah seorang pemimpin teladan yang dicintai dan dihormati rakyatnya. HB IX adalah pemimpin pengayom, yang sanggup membuat bangga setiap mandat yang dia berikan kepada siapa saja.
Prajurit2 TNI di medan2 berbahaya akan sangat menghormati jenderal2 mereka yang teladan. Tentu bukan jenderal yang kerjannya hanya 'ngurusin' proyek pengadaan senjata (istilah jawa timuran, nggolek susuk/kembalian, nggolek bathi/untung, dll).
Polisi2 yang berhadapan langsung dengan teroris, polisi yang melindungi masyarakat di lapangan, polisi yang menangkap penjahat, tentu akan bertanggung jawab penuh jika para jenderal polisi tidak sibuk berkongkow-ria dengan para 'tokai', cukong, dan penjahat 'kerah putih'. Yang terjadi, polisi2 itu jadi ikutan kongkow dengan penjahat kelas teri.
Lalu anggota DPR, mereka inilah yang bakal menghancurkan bangsa ini. Tidak tahu malu, tidak bertanggung jawab, melakukan pemborosan dengan semena2. Mudah2an adzab tuhan segera menimpa kepada para pengkhianat rakyat ini. Pimpinan Parpol sangat BANCI, mereka tidak berdaya akan kelakuan buruk para politisi bawahannya itu. Apakah pimpinan parpol itu memang sama buruknya kok tidak berani bertindak?
Pimpinan birokrasi lebih banyak menjadi katak dalam tempurung, jauh dari kemajuan zaman. Mereka tetap saja korup, dan bekerja males2an. Tetap saja berlaku, jika bisa dipersulit ngapain dipermudah.
Mbah Maridjan adalah setetes embun di padang pasir Indonesia yang sangat kering-kerontang akan inspirasi pada tanggung jawab profesi.
Ikut berduka cita pada saudara2 satu negeri korban bencana Gunung Merapi, tsunami di Kepulauan Mentawai, dan banjir bandang Wasior. Semoga Tuhan mengampuni baik yang sudah meninggal maupun kita yang masih diberi kesempatan untuk berbuat benar di negeri Indonesia ini.
Salam,
Lesehan Taman Suropati
0 comments:
Poskan Komentar